OBROLAN TENGAH MALAM DENGAN TOEAN BERRETTY
Dinn Wahyudin
Malam itu angin Bandung berembus pelan dari arah utara. Dari teras Villa Isola, lampu-lampu kota tampak berkelip di kejauhan. Bangunan megah itu berdiri anggun, seolah tak terusik oleh waktu.Dalam lamunan, saya membayangkan duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang telah lama meninggalkan dunia. Jas putihnya rapi. Wajahnya tenang. Matanya memandang jauh ke arah pegunungan.Dialah Dominique Willem Berretty.Raja media. Sosialita. Playboy. Sekaligus pemilik Villa Isola."Toean Berretty," saya membuka percakapan, "hampir satu abad setelah kepergian Anda, orang masih membicarakan nama Anda."Ia tersenyum tipis."Semoga bukan hanya karena kisah cinta saya."Saya ikut tersenyum."Sayangnya, justru itu yang paling sering dibicarakan."Berretty tertawa kecil."Begitulah dunia. Orang lebih senang mendengar kisah asmara daripada laporan keuangan.""Tapi sebelum sampai ke sana," kata saya, "izinkan saya bertanya tentang akhir perjalanan hidup Anda."Berretty terdiam sejenak.Angin malam terasa lebih dingin."Desember 1934," lanjut saya. "Pesawat DC-2 Uiver yang Anda tumpangi jatuh dalam perjalanan Amsterdam menuju Batavia."Ia mengangguk perlahan, mata nya redup."Ya. Perjalanan terakhir saya." Suaranya pelan nyaris tak terdengar dengan mata berbinar. "Koran Sipatahoenan menulis berita duka tentang Anda. Mereka menyebut Anda seorang yang kaya raya, dermawan, dan terkenal karena berbagai kisah cintanya."
Berretty termenung seperti menahan sesuatu."Mereka tidak sepenuhnya salah.""Koran itu juga menulis bahwa bersama pesawat tersebut ikut musnah sekitar lima puluh satu ribu surat yang hendak dikirim ke Indonesia.""Saya ingat," katanya lirih dengan mata berbinar. "Kadang sejarah mengingat jumlah surat yang hilang lebih lama daripada nama para penumpangnya."Saya memandang lelaki itu. Sulit membayangkan bahwa sosok yang tampak santai di hadapan saya pernah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Hindia Belanda.
"Tuan lahir dari ayah berdarah Italia dan ibu pribumi Jawa. Apakah masa kecil itu membentuk ambisi Anda?" "Tentu saja." "Mengapa?" "Saya hidup di antara dua Dunia," jawabnya. "Tidak sepenuhnya diterima sebagai Eropa. Tidak sepenuhnya dianggap pribumi. Jadi saya belajar satu hal: kalau ingin dihormati, saya harus menciptakan jalan saya sendiri." "Maka Anda memilih dunia jurnalistik?" "Awalnya hanya pekerjaan sampingan," kata Berretty. "Saya bekerja di PTT, lalu menulis berita untuk Java Bode. Namun lama-kelamaan saya menyadari satu hal: Informatie is Macht atau informasi adalah kekuasaan, dalam logat bahasa Belanda yang pasih. "Tahun 1917 Anda mendirikan ANETA?" Wajahnya langsung berbinar. "Itu anak kesayangan saya." "ANETA memiliki moto yang terkenal: Altijd nummer Een, Trots Alles. "Selalu nomor satu, berapa pun biayanya," jawabnya mantap. "Sangat ambisius." "Memang." "Dan ternyata berhasil." "Syukurlah." Jawabannya singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan keyakinan yang pernah mengantarkannya menjadi salah satu tokoh media paling berpengaruh di Hindia Belanda.
Dari ANETA, berita mengalir ke berbagai penjuru negeri. Bersamaan dengan itu, kekayaan pun datang. Nama Berretty semakin dikenal. Ia memiliki rumah-rumah mewah, mobil mahal, dan pergaulan elite yang hanya bisa dimasuki segelintir orang. Namun seperti biasa, publik lebih tertarik pada kehidupan pribadinya daripada keberhasilan bisnisnya. "Dan tentu saja," kata saya sambil tersenyum, "orang lebih suka membicarakan perempuan-perempuan dalam hidup Anda."
Berretty tertawa pelan.
"Nah, akhirnya kita sampai juga ke topik itu."
"Konon Anda menikah enam kali."
"Saya tidak pernah menganggapnya sebagai prestasi."
"Tetapi banyak orang tampaknya menganggap demikian."
Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.
Malam terasa semakin tenang. Angin berembus perlahan melewati teras Villa Isola. Saya merasa inilah saat yang tepat untuk mengajukan pertanyaan yang sejak awal memenuhi rasa penasaran saya.
"Tuan Berretty, benarkah Villa Isola dibangun karena seorang perempuan?"
Kali ini ia tidak langsung menjawab.
Matanya beralih ke bangunan megah yang berdiri di belakang kami. Seolah ada kenangan lama yang sedang dipanggil kembali.
"Orang masih mempercayai cerita itu?" tanyanya.
"Sangat banyak."
"Lalu apa yang mereka ceritakan?"
"Sekitar tahun 1932 Anda menjalin hubungan dengan salah seorang putri Gubernur Jenderal Cornelis de Jonge."
Ia mengangguk kecil.
"Lanjutkan."
"Hubungan itu tidak direstui."
Wajahnya tetap tenang, tetapi senyumnya perlahan memudar.
"Dan?"
"Anda merasa dihina."
Berretty menarik napas panjang, raut mukanya memudar.
"Kadang manusia bisa menerima kehilangan," katanya pelan. "Yang sulit diterima adalah ketika dirinya dianggap tidak cukup pantas."
"Jadi cerita itu benar?"
Ia menatap saya sebentar.
"Saya tidak mengatakan benar."
"Tapi Anda juga tidak membantah."
"Itu membuat ceritanya lebih menarik, bukan?"
Saya tertawa kecil.
"Tuan memang pandai menjaga misteri."
"Mungkin karena sebagian misteri lebih indah daripada jawabannya."
"Tapi apakah Villa Isola merupakan bentuk balas dendam karena cinta yang ditolak?"
Ia menggeleng perlahan.
"Balas dendam terdengar terlalu keras."
"Lalu apa?"
"Mungkin pembuktian."
"Pembuktian kepada siapa?"
"Kepada siapa pun yang pernah menganggap saya tidak cukup baik."
Kalimat itu diucapkan dengan tenang, tetapi terasa menyimpan luka yang dalam.
Saya membayangkan seorang lelaki yang telah membangun kerajaan media, memiliki kekayaan berlimpah, dan dikenal luas. Tetapi ia masih harus berhadapan dengan tembok-tembok status sosial yang sulit ditembus.
"Lalu Anda menghubungi Schoemaker?"
"Ya."
"Apa yang Anda minta kepadanya?"
Berretty tersenyum tipis.
"Saya hanya berkata, bangunkan sebuah rumah yang membuat orang berhenti, menoleh, lalu mengingatnya."
"Berapa pun biayanya?"
"Berapa pun."
Kami berjalan memasuki bangunan Vila Isola. Cahaya bulan menyusup melalui jendela-jendela besar. Lengkungan-lengkungan Art Deco tampak elegan dalam suasana malam yang hening.
Di dekat pintu utama saya berhenti.
"Tuan, ada satu hal yang selalu membuat saya penasaran."
"Saya sudah bisa menebaknya." Ia berucap lirih.
"M'Isolo E Vivo?"
Ia tersenyum ringan.
"Semua orang selalu bertanya tentang itu."
"Itu bahasa Italia?"
"Ya."
"Lalu apa artinya bagi Anda?"
Untuk pertama kalinya, Berretty tampak berpikir cukup lama sebelum menjawab.
Ia memandang keluar jendela, ke arah lampu-lampu Bandung yang berkelip di kejauhan. Ia berkata lirih.
"Mengucilkan diri untuk tetap hidup."
"Sebuah kalimat yang terdengar sedih."
"Mungkin."
"Kalimat seorang yang patah hati?"
"Mungkin."
"Atau seseorang yang kecewa?"
"Mungkin juga."
Saya tertawa kecil.
"Tuan selalu menjawab dengan kata mungkin."
Ia ikut tersenyum tipis dengan mata yang berbinar.
"Karena hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Banyak hal berada di antara keduanya."
Malam semakin larut...
Sebelum percakapan berakhir, saya mengajukan satu pertanyaan terakhir.
"Jika hari ini orang bertanya apakah Villa Isola adalah monumen cinta yang gagal, apa jawaban Anda?"
Berretty memandang bangunan itu cukup lama.
Lalu ia berkata pelan,
"Setiap orang melihat sebuah bangunan sesuai pengalaman hidupnya."
"Maksudnya?"
"Orang yang pernah patah hati akan menemukan kisah cinta di dalamnya. Orang yang ambisius akan melihat keberhasilan. Orang yang kesepian akan melihat pengasingan."
"Lalu Tuan sendiri melihat apa?"
Ia tersenyum tipis dengan wajah berbinar.
"Kehidupan."
Jawaban itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa sangat dalam.
Tak lama kemudian angin malam bertiup lebih kencang. Saya berkedip sesaat. Ketika kembali menoleh, sosok Berretty perlahan memudar bersama bayangan malam.
Yang tersisa hanyalah Villa Isola yang berdiri anggun dalam keheningan.
Sebuah kalimat yang terus bergaung di kepala saya.
“M'Isolo E Vivo”
Apakah itu jeritan cinta yang tak sampai?
Ataukah pengakuan seorang lelaki yang memilih menyendiri demi bertahan hidup?
Barangkali Tuan Berretty sengaja membawa jawabannya pergi.
Membiarkan generasi demi generasi terus menebak-nebak makna yang tersembunyi di balik bangunan itu.
Ketika langkah kaki saya meninggalkan teras Villa Isola, saya tiba-tiba tersadar. Sejak tadi saya merasa benar-benar sedang berbincang dengan Tuan Berretty, padahal lelaki itu telah meninggal lebih dari sembilan puluh tahun yang lalu.
Tidak ada kursi yang bergeser. Tidak ada suara yang sungguh-sungguh terdengar. Yang ada hanyalah imajinasi yang dipantik oleh sejarah, arsitektur, dan jejak kehidupan yang masih tertinggal di tempat ini.
Dalam sunyi tengah malam Bandung tahun 1934, semuanya terasa begitu nyata.
Mungkin memang ada semacam keajaiban kecil dalam setiap peninggalan sejarah. Bukan mistis yang menakutkan. Melainkan perasaan bahwa masa lalu sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam cerita. Dalam kenangan. Dalam bangunan tua yang masih berdiri melawan waktu.
Dan malam itu, sebelum meninggalkan Villa Isola, saya merasa seolah mendengar kembali bisikan yang datang entah dari mana:
”M'Isolo E Vivo”.
Sebuah kalimat tua yang masih menyimpan rahasia.
Sebuah rahasia yang mungkin hanya diketahui oleh Tuan Berretty seorang.
Malam semakin larut. Hening. Sunyi. Membisu.







0 comments:
Posting Komentar