Jumat, 7 Agustus 2026
Penceramah : KH. IPTU JUJUN JUNAEDI (DA'I POLRI)
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan nikmat berkumpul di rumah Allah untuk melaksanakan ibadah Jumat.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Mari Meningkatkan Ketakwaan
Dalam khutbah Jumat, khatib mengawali nasihatnya dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Takwa bukan hanya persoalan seberapa banyak kita melaksanakan ibadah ritual. Takwa juga harus memberikan pengaruh nyata terhadap perilaku, ucapan, sikap, dan hubungan kita dengan sesama manusia.
Shalat seharusnya membuat kita semakin mampu meninggalkan perbuatan buruk. Puasa seharusnya melatih kita mengendalikan hawa nafsu. Membaca Al-Qur'an seharusnya membentuk akhlak yang lebih baik. Dan semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin baik pula perilakunya terhadap orang lain.
Karena itu, ukuran ketakwaan tidak cukup hanya dilihat dari bagaimana seseorang beribadah ketika berada di masjid, tetapi juga bagaimana ia bersikap ketika berada di tengah masyarakat.
Apakah ia jujur?
Apakah ia menjaga amanah?
Apakah ia menjaga lisannya?
Apakah ia menghormati hak orang lain?
Apakah ia mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Dan apakah ia mampu menerima bahwa dirinya tidak selalu benar?
Semua itu merupakan bagian dari akhlak yang harus tumbuh dari ketakwaan.
---
Jangan Meremehkan Dosa
Khatib juga mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.
Kadang-kadang seseorang berkata, “Ah, hanya bohong sedikit.”
"Hanya membicarakan orang sebentar."
"Hanya meneruskan berita dari WhatsApp."
"Tidak ada yang dirugikan."
Padahal sesuatu yang dianggap kecil dan dilakukan berulang-ulang dapat menjadi perkara yang besar.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7–8:
«فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ»
«“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”»
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada amal yang benar-benar hilang dari pengetahuan Allah SWT.
Kebaikan sekecil apa pun akan diketahui Allah, demikian pula keburukan sekecil apa pun.
Karena itu, jangan merasa aman hanya karena sebuah dosa tidak diketahui manusia.
Mungkin manusia tidak melihat.
Mungkin keluarga tidak mengetahui.
Mungkin tetangga tidak tahu.
Mungkin tidak ada yang memberikan teguran.
Tetapi Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu.
---
Dosa yang Terus Diulang Dapat Menutupi Hati
Yang lebih berbahaya bukan hanya melakukan dosa, tetapi ketika seseorang sudah tidak lagi merasa bahwa perbuatannya adalah dosa.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Muthaffifin ayat 14:
«كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ»
«“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”»
Ayat ini memberikan peringatan bahwa perbuatan buruk yang terus dilakukan dapat menimbulkan karat atau penutup pada hati.
Awalnya seseorang berbuat dosa dan merasa bersalah.
Kemudian dosa itu diulangi.
Lama-kelamaan rasa bersalah berkurang.
Akhirnya, sesuatu yang dahulu dianggap salah mulai dianggap biasa.
Bahkan pada keadaan tertentu, seseorang bisa sampai menganggap perbuatan buruknya sebagai sesuatu yang benar.
Allah berfirman dalam QS. Fathir ayat 8:
«“Maka apakah orang yang dijadikan terasa indah baginya perbuatan buruknya, lalu dia memandangnya sebagai sesuatu yang baik...”»
Inilah keadaan yang harus kita takuti.
Bukan hanya takut melakukan dosa, tetapi juga takut kehilangan kemampuan untuk merasa bahwa dosa itu adalah dosa.
---
Dusta: Dosa yang Sering Dianggap Sepele
Salah satu dosa yang menjadi perhatian khusus dalam khutbah adalah dusta atau kebohongan.
Dusta sering dianggap sebagai sesuatu yang ringan. Padahal Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang bahaya kebohongan.
Rasulullah SAW bersabda:
«“Jauhilah kebohongan, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Kebohongan tidak selalu berupa perkataan secara langsung.
Pada zaman sekarang, dusta dapat dilakukan melalui:
- pesan WhatsApp;
- Facebook;
- Instagram;
- TikTok;
- video;
- komentar;
- berita yang belum terverifikasi;
- foto yang diberi keterangan palsu;
- atau menyebarkan informasi yang kita sendiri belum mengetahui kebenarannya.
Karena itu, jari-jari kita juga harus bertakwa, bukan hanya lisan kita.
Sebelum menekan tombol kirim, bertanyalah kepada diri sendiri:
Apakah ini benar?
Apakah sumbernya jelas?
Apakah bermanfaat?
Apakah jika ternyata salah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
Jika tidak yakin, maka lebih baik diam daripada menyebarkan sesuatu yang dapat menjadi dosa.
---
Dusta yang Berubah Menjadi Fitnah
Dusta menjadi semakin berbahaya ketika berkembang menjadi fitnah.
Sebuah berita yang tidak benar dapat merusak nama baik seseorang.
Satu pesan yang tidak benar dapat menimbulkan permusuhan.
Satu tuduhan yang tidak terbukti dapat menghancurkan hubungan keluarga.
Bahkan sebuah unggahan di media sosial dapat dilihat oleh ratusan atau ribuan orang.
Karena itu, jangan pernah menganggap ringan kalimat:
«“Saya hanya meneruskan.”»
Meneruskan informasi yang salah tetap dapat membawa akibat.
Islam mengajarkan tabayun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil sikap.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
«“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”»
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini.
Jangan cepat percaya. Jangan cepat menyebarkan. Jangan cepat menuduh. Tabayun terlebih dahulu.
---
Tanda-Tanda Kemunafikan
Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang beberapa sifat yang merupakan tanda kemunafikan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
«“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanah dia berkhianat.”»
Maka yang harus kita lakukan bukan sibuk mencari siapa orang munafik di sekitar kita.
Justru hadis ini harus menjadi cermin bagi diri sendiri.
Apakah saya masih sering berbohong?
Apakah saya sering mengingkari janji?
Apakah saya pernah menyalahgunakan amanah?
Kalau ada, mari segera memperbaikinya.
Jangan sampai kita rajin mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
---
Jangan Merasa Diri Paling Benar
Pesan penting lainnya yang dapat kita ambil adalah agar kita tidak mudah merasa paling benar dan paling baik.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar.
Bisa jadi pendapat kita benar dalam satu hal, tetapi ada bagian yang belum kita ketahui.
Bisa jadi orang yang kita anggap salah ternyata memiliki alasan yang belum kita dengar.
Bisa jadi kita memiliki sebagian kebenaran dan orang lain juga memiliki sebagian kebenaran.
Karena itu Allah SWT berfirman:
«فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ»
«“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)»
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah merasa diri paling baik, paling suci, atau paling benar.
Dalam menghadapi perbedaan, hendaknya kita mendengar sebelum menilai, bertanya sebelum menuduh, dan bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
---
Menjaga Lisan adalah Bentuk Ketakwaan
Rasulullah SAW bersabda:
«“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Betapa sederhana tuntunan ini, tetapi betapa besar manfaatnya.
Jika perkataan kita benar dan bermanfaat, sampaikan.
Jika perkataan kita dapat mendamaikan, sampaikan.
Jika perkataan kita dapat memberikan nasihat, sampaikan dengan cara yang baik.
Tetapi jika perkataan kita hanya akan menimbulkan fitnah, mempermalukan orang, membuka aib, atau menimbulkan permusuhan, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.
Jangan sampai lisan yang seharusnya digunakan untuk berdzikir kepada Allah justru digunakan untuk menyakiti sesama.
---
Mari Kita Jadikan Takwa sebagai Akhlak
Pada akhirnya, ketakwaan harus terlihat dalam kehidupan nyata.
Orang yang bertakwa akan berusaha jujur meskipun kejujuran itu berat.
Ia menjaga amanah meskipun tidak ada yang mengawasi.
Ia menjaga lisannya meskipun memiliki kesempatan untuk membicarakan keburukan orang lain.
Ia mau meminta maaf ketika salah.
Ia mau menerima nasihat.
Ia tidak mudah menuduh.
Ia tidak menyebarkan berita yang belum jelas.
Dan ia tidak merasa dirinya selalu benar.
Mari kita jadikan masjid bukan hanya tempat kita memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga tempat kita belajar memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Semoga setelah keluar dari masjid, kita menjadi manusia yang lebih jujur, lebih santun, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan, kedengkian, kebencian, dan prasangka buruk.
Ya Allah, jadikan lisan kami lisan yang jujur dan senantiasa berkata baik.
Jauhkan kami dari dusta, fitnah, ghibah, namimah, dan segala perkataan yang dapat menyakiti serta merugikan sesama.
Ya Allah, jika kami salah, berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengakui kesalahan. Jika kami benar, jauhkan kami dari kesombongan. Dan jika kami menghadapi perbedaan, berikanlah kami kebijaksanaan untuk menyelesaikannya dengan musyawarah dan cara yang Engkau ridhai.
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertakwa, menjaga lisan, menjaga amanah, mencintai kejujuran, dan memperbaiki akhlak.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Pesan Utama Khutbah
«“Jangan hanya bertanya: Apakah saya benar? Tetapi tanyakan juga: Apakah cara saya sudah benar? Jangan hanya takut melakukan dosa, tetapi takutlah ketika hati kita sudah tidak lagi merasa bahwa dosa itu adalah dosa.”»
KH. IPTU JUJUN JUNAEDI (DA'I POLRI)
Masjid Al Hidayah – Cimahpar Endah 2
Jumat, 7 Agustus 2026







0 comments:
Posting Komentar