Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
Selamat datang di Web Cimahpar Endah 2 RW 11, Pasirhalang, Sukaraja, Sukabumi

Jumat, 25 September 2026

September 25, 2026 | Posted in , by cme2 | No comments

Daftar Orang Kaya Dunia


Sebuah Percakapan Imajinatif tentang Kekayaan, Amal, Dunia dan Akhirat


Pernahkah kita melihat daftar orang-orang terkaya di dunia?


Nama-nama mereka berasal dari berbagai negara, berbagai latar belakang, dan berbagai keyakinan. Sebagian besar bukan Muslim.


Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang menarik:


“Kalau Allah mengatakan bahwa orang yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya akan diberikan balasan atas pekerjaannya di dunia, apakah kekayaan orang-orang tersebut merupakan balasan dari Allah? Lalu bagaimana dengan orang beriman yang hidup sederhana?”


Mari kita renungkan melalui percakapan berikut.


---


S: Izin bertanya, Pak Ustadz.


U: Ya, silakan.


S: Dalam Surah Hud ayat 15 dikatakan:


«مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ»


«“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.”

(QS. Hud: 15)»


Berarti orang yang mengejar dunia bisa mendapatkan balasan sempurna atas pekerjaannya di dunia?


U:


Ayat tersebut memang berbicara tentang orang yang menjadikan kehidupan dunia dan perhiasannya sebagai tujuan utama.


Namun kita tidak boleh membaca ayat 15 sendirian. Perhatikan ayat berikutnya:


«“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan...”

(QS. Hud: 16)»


Jadi konteksnya sangat penting.


Ayat tersebut bukan berarti “siapa pun yang kaya berarti mendapat balasan dari Allah karena amalnya.”


Kekayaan seseorang tidak dapat dijadikan ukuran pasti apakah Allah sedang memuliakannya atau tidak.


---


S: Jadi kekayaan bukan ukuran seseorang mendapat rahmat Allah?


U: Betul.


Allah sendiri mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara.


Allah berfirman:


«“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”

(QS. Al-Hadid: 20)»


Karena itu, seseorang bisa memiliki kekayaan luar biasa tetapi belum tentu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah.


Sebaliknya, seseorang bisa hidup sederhana tetapi sangat mulia di sisi Allah karena iman, ketakwaan dan amalnya.


---


S: Tetapi orang kaya biasanya mendapatkan hasil dari kerja kerasnya. Bukankah itu juga balasan?


U: Bisa menjadi salah satu bentuk hasil atau sebab duniawi, tetapi kita harus membedakan antara “hasil di dunia” dan “balasan akhirat”.


Seseorang bekerja keras, memiliki kemampuan, mengambil peluang, membangun perusahaan, menciptakan produk, mempekerjakan ribuan orang, lalu memperoleh kekayaan.


Secara duniawi, kita dapat mengatakan:


kerja keras → usaha → hasil → kekayaan.


Tetapi secara keimanan, kita tidak boleh langsung mengatakan:


kaya → berarti Allah lebih mencintainya.


Sebab Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai maupun kepada orang yang tidak Dia cintai.


Dunia bukanlah ukuran akhir dari kemuliaan seseorang.


---


S: Kalau begitu, bagaimana dengan orang Muslim yang bekerja keras tetapi tidak menjadi kaya?


U: Justru di sinilah kita harus memahami konsep balasan Allah secara lebih luas.


Allah berfirman:


«“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. An-Nahl: 97)»


Perhatikan:


Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan yang baik selalu berarti menjadi miliarder.


Kehidupan yang baik bisa berupa:


- rezeki yang halal,

- keluarga yang tenteram,

- kesehatan,

- hati yang tenang,

- ilmu yang bermanfaat,

- anak-anak yang saleh,

- persahabatan yang baik,

- umur yang digunakan dalam kebaikan,

- serta hati yang selalu merasa cukup.


Karena itu, “kaya” dan “bahagia” bukanlah dua kata yang selalu berarti sama.


---


S: Tetapi bagaimana dengan amal baik orang non-Muslim? Bukankah banyak dari mereka yang bekerja keras, jujur, membantu orang lain, membangun rumah sakit, sekolah, memberikan donasi, bahkan menciptakan lapangan kerja?


U: Pertanyaan ini pernah dijawab oleh Rasulullah ﷺ melalui sebuah hadis yang sangat menarik.


Dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seorang mukmin memperoleh balasan atas kebaikannya di dunia dan di akhirat, sedangkan orang yang tidak beriman dapat memperoleh balasan atas kebaikannya di dunia.


Maknanya memberikan pelajaran penting:


Jangan mengira bahwa ketika seseorang mendapatkan keberhasilan duniawi, berarti itu otomatis tanda bahwa ia memperoleh keseluruhan balasan amalnya dari Allah.


Allah Mahaadil.


Tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari pengetahuan-Nya.


---


S: Jadi apakah orang beriman mendapatkan balasan kebaikannya di dunia juga?


U: Ya.


Hadis tadi bahkan menjelaskan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan kebaikan seorang mukmin.


Allah dapat memberikan sebagian balasannya di dunia dan menyimpan balasan yang lebih besar untuk akhirat.


Inilah yang membedakan orientasi seorang mukmin.


Orang beriman tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.


Dunia adalah tempat menanam.


Akhirat adalah tempat menuai.


---


S: Tapi bukankah orang Muslim juga mempunyai dosa?


U: Tentu. Tidak ada manusia yang sempurna.


Allah berfirman:


«“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

(QS. Al-'Asr: 2–3)»


Setiap manusia bisa salah, lupa dan berbuat dosa.


Tetapi seorang mukmin memiliki kesempatan untuk:


bertaubat → memperbaiki diri → memperbanyak amal saleh → memohon ampun kepada Allah.


Jadi kita tidak boleh membuat kesimpulan sederhana bahwa:


“Kalau seorang Muslim tidak kaya, berarti Allah sedang menghukum dia.”


Tidak demikian.


---


S: Lalu bagaimana dengan QS. Az-Zalzalah ayat 7–8?


U: Itu adalah salah satu prinsip keadilan Allah yang sangat luar biasa.


Allah berfirman:


«فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ»


«“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

(QS. Az-Zalzalah: 7–8)»


Tidak ada kebaikan yang hilang.


Tidak ada kejahatan yang luput dari perhitungan Allah.


Yang tidak kita ketahui adalah kapan, bagaimana dan dalam bentuk apa Allah memberikan balasan tersebut.


---


S: Jadi daftar orang terkaya di dunia tidak bisa dijadikan daftar orang yang mendapat balasan Allah?


U: Tepat.


Daftar orang terkaya hanyalah daftar kekayaan dunia, bukan daftar orang yang paling dicintai Allah.


Demikian pula:


orang miskin bukan berarti orang yang dibenci Allah.


orang kaya bukan berarti orang yang dicintai Allah.


orang sukses secara ekonomi bukan otomatis sukses di akhirat.


orang sederhana bukan berarti gagal dalam kehidupan.


Ukuran yang sebenarnya adalah ketakwaan.


Allah berfirman:


«“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)»


---


S: Berarti orang Muslim boleh menjadi kaya?


U: Bukan hanya boleh, tetapi kekayaan bisa menjadi sarana kebaikan yang luar biasa apabila diperoleh dan digunakan dengan benar.


Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi miskin.


Yang diajarkan adalah:


jangan sampai harta menjadi Tuhan di dalam hati.


Allah berfirman:


«“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia...”

(QS. Al-Qashash: 77)»


Ayat ini sangat indah.


Kita diperintahkan mencari akhirat, tetapi tidak disuruh meninggalkan dunia.


Maka seorang Muslim boleh menjadi pengusaha.


Boleh memiliki rumah.


Boleh memiliki kendaraan.


Boleh memiliki tabungan.


Boleh membangun perusahaan.


Boleh memiliki kekayaan.


Asalkan hartanya halal, cara mendapatkannya halal, dan penggunaannya juga berada di jalan yang diridai Allah.


---


S: Kalau begitu, apa yang membedakan orang kaya yang beriman dengan orang kaya yang hanya mengejar dunia?


U: Bukan jumlah hartanya, tetapi posisi harta itu di dalam hatinya.


Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi hatinya tetap menjadi hamba Allah.


Hartanya digunakan untuk:


- zakat,

- sedekah,

- membantu fakir miskin,

- membangun masjid,

- membiayai pendidikan,

- membantu orang sakit,

- membuka lapangan pekerjaan,

- menolong keluarga,

- dan berbagai amal sosial lainnya.


Ada pula orang yang hartanya tidak terlalu banyak, tetapi seluruh hidupnya hanya mengejar dunia.


Maka persoalannya bukan:


“Berapa banyak harta yang kita punya?”


Tetapi:


“Untuk apa harta itu kita gunakan?”


---


Pelajaran Penting dari Percakapan Ini


Kita sering melihat kehidupan hanya dari apa yang tampak.


Kita melihat rumah besar.


Kita melihat mobil mewah.


Kita melihat perusahaan besar.


Kita melihat rekening yang besar.


Kita melihat daftar miliarder dunia.


Tetapi kita tidak melihat:


bagaimana keadaan hati mereka, bagaimana akhir hidup mereka, bagaimana amal mereka, dan bagaimana keadaan mereka di hadapan Allah.


Demikian pula kita tidak boleh merasa rendah hanya karena hidup kita sederhana.


Sebab nilai manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh saldo rekening.


---


Harta adalah Ujian, Bukan Sekadar Hadiah


Rasulullah ﷺ bersabda:


«“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”»


(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini mengajarkan bahwa harta dapat menjadi nikmat sekaligus ujian.


Miskin diuji dengan kesabaran.


Kaya diuji dengan kesyukuran.


Sehat diuji dengan ketaatan.


Sakit diuji dengan kesabaran.


Memiliki jabatan diuji dengan amanah.


Tidak memiliki jabatan diuji dengan keikhlasan.


Pada akhirnya, semuanya akan kembali kepada Allah.


---


Kesimpulan


Maka ketika kita melihat daftar orang terkaya di dunia, jangan langsung berpikir:


«“Mereka kaya karena Allah memberikan balasan sempurna atas amal mereka.”»


Dan jangan pula berpikir:


«“Kalau seorang Muslim miskin berarti Allah tidak memberikan balasan kepadanya.”»


Kita tidak memiliki pengetahuan untuk membuat kesimpulan seperti itu terhadap individu tertentu.


Yang dapat kita pegang adalah prinsip Al-Qur'an dan Sunnah:


Allah Mahaadil.


Tidak ada kebaikan yang sia-sia.


Tidak ada keburukan yang luput dari perhitungan.


Dunia bukan ukuran akhir keberhasilan manusia.


Dan bagi seorang Muslim, tujuan akhirnya bukan menjadi orang terkaya di dunia, tetapi menjadi orang yang paling bernilai di hadapan Allah.


Sebab ketika kematian datang, seluruh kekayaan yang kita miliki akan berhenti menjadi milik kita.


Rumah tinggal.


Mobil tinggal.


Perusahaan tinggal.


Uang tinggal.


Jabatan tinggal.


Yang ikut bersama kita hanyalah amal.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)»


Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:


“Siapa orang terkaya di dunia?”


Tetapi:


“Ketika saya meninggalkan dunia, apa yang akan saya bawa menghadap Allah?”


Karena pada akhirnya,


kekayaan terbesar bukanlah banyaknya harta yang berhasil kita kumpulkan, tetapi banyaknya amal yang berhasil kita bawa pulang ke akhirat.


Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Read More

Kamis, 24 September 2026

September 24, 2026 | Posted in , by cme2 | No comments


Setiap kali saya menghadiri pemakaman dan ikut melaksanakan salat jenazah, ada satu hal yang sering terlintas dalam pikiran saya:

Bagaimana jika jenazah yang berada di hadapan saya itu adalah saya sendiri?

Pertanyaan sederhana itu ternyata mampu mengubah cara saya memandang kehidupan.

Ketika kita berdiri untuk menyalatkan seseorang yang telah meninggal, kita mungkin melihat sebuah tubuh yang sudah tidak bergerak. Tidak lagi berbicara, tidak lagi tersenyum, tidak lagi bisa bekerja, berdebat, bercanda, atau meminta sesuatu kepada kita.

Tetapi ada satu hal yang masih bisa kita lakukan untuknya: mendoakannya.

Dalam salat jenazah, kita memohon kepada Allah agar orang yang telah meninggal mendapatkan ampunan, rahmat, keselamatan, dan tempat yang baik di sisi-Nya.

Saat itu saya membayangkan:

Mungkin sekarang ia sedang menunggu doa-doa dari orang-orang yang masih hidup.

Doa kita mungkin hanya beberapa menit. Tetapi bagi seseorang yang telah meninggalkan dunia, doa itu adalah bentuk kasih sayang yang masih bisa kita berikan.

Kemudian muncul kesadaran yang lebih dalam:

Suatu hari nanti, saya juga akan berada di posisi itu.

Saya yang sekarang berdiri di belakang jenazah, suatu saat akan menjadi orang yang berada di depan orang-orang yang menyalatkan.

Saya yang sekarang mendoakan orang lain, suatu saat akan membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup.

---

Kita Sering Merasa Kematian Itu Jauh

Ketika seseorang meninggal, kita sering mengatakan:

"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah."

Kemudian kita pulang.

Kehidupan kembali berjalan.

Besok kita bekerja.

Kita makan.

Kita tertawa.

Kita berencana.

Kita mengejar sesuatu yang kita inginkan.

Seolah-olah kematian adalah sesuatu yang hanya terjadi kepada orang lain.

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Setiap jenazah yang kita lihat sebenarnya sedang membawa pesan kepada kita:

«"Hari ini kamu yang mengantarkan aku. Suatu hari nanti, orang lain akan mengantarkan kamu."»

Karena itu, menghadiri salat jenazah seharusnya bukan hanya menjadi bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal.

Ia juga merupakan cermin bagi diri kita sendiri.

---

Tentang Waktu, Alam Dunia dan Alam Akhirat

Di sinilah pikiran saya kemudian berkelana kepada persoalan ruang dan waktu.

Dalam teori relativitas Einstein, ruang dan waktu merupakan bagian dari struktur alam semesta dan saling berkaitan dalam konsep ruang-waktu (spacetime). Namun, teori relativitas tidak menyatakan atau membuktikan bahwa alam akhirat tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Persoalan akhirat berada di wilayah yang berbeda: wilayah keimanan dan metafisika, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan hanya melalui persamaan fisika.

Tetapi sebagai sebuah renungan, kita dapat membayangkan bahwa alam akhirat bukanlah sesuatu yang harus dipahami dengan ukuran kehidupan dunia semata.

Al-Qur'an sendiri mengingatkan bahwa ukuran waktu di sisi Allah tidak sama dengan ukuran waktu yang kita alami sebagai manusia.

Allah berfirman:

«وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ»

«“Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS. Al-Hajj: 47)»

Ayat ini tidak boleh disederhanakan sebagai rumus fisika tentang akhirat. Namun ayat tersebut memberi kita sebuah kesadaran bahwa ukuran waktu manusia tidak dapat begitu saja dijadikan ukuran untuk memahami seluruh realitas yang berada di luar pengalaman duniawi kita.

---

Bagaimana Jika "Saya yang Sekarang" Bertemu dengan "Saya yang Akan Datang"?

Ada sebuah renungan yang menarik.

Saya yang sekarang masih hidup adalah seseorang yang sedang berjalan menuju kematian.

Sementara "saya yang akan datang" adalah saya yang suatu hari nanti telah meninggalkan dunia.

Saya tidak tahu kapan pertemuan itu terjadi

Mungkin puluhan tahun lagi.

Mungkin beberapa tahun lagi.

Mungkin bahkan jauh lebih dekat daripada yang saya bayangkan.

Namun satu hal pasti:

Saya yang sekarang sedang menentukan keadaan saya yang akan datang.

Jika hari ini saya rajin berbuat baik, maka kebaikan itu menjadi bagian dari bekal saya

Jika hari ini saya menjaga salat, bersedekah, membantu orang lain, menjaga lisan, meminta maaf ketika salah, dan berusaha meninggalkan dosa, maka semua itu tidak hilang begitu saja.

Sebaliknya, jika hari ini saya menyakiti orang, mengambil hak orang lain, sombong, lalai dari Allah, dan terus menumpuk dosa, maka saya juga sedang mempersiapkan sesuatu untuk diri saya sendir

Dengan kata lain:

Saya yang sekarang sedang mengirim bekal kepada saya yang akan datang.

---

Tidak Perlu Menunggu Menjadi Jenazah untuk Mendoakan Diri Sendiri

Ada sesuatu yang sering kita lupa.

Ketika seseorang sudah meninggal, kita mendoakannya:

"Ya Allah, ampuni dia."

"Ya Allah, rahmati dia."

"Ya Allah, tempatkan dia di tempat yang baik."

Tetapi mengapa kita tidak mulai memohon semua itu sekarang, ketika kita masih hidup?

Kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat.

Masih bisa memperbaiki salat.

Masih bisa bersedekah.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Masih bisa menolong tetangga.

Masih bisa belajar agama.

Masih bisa meninggalkan kebiasaan buruk.

Masih bisa memperbanyak amal saleh.

Karena selama kita masih hidup, pintu amal masih terbuka.

---

Barangkali Inilah Makna "Mendoakan Diri Sendiri"

Ketika saya berkata:

"Saya harus berbuat baik agar saya yang akan datang bahagia,"

itu bukan berarti kita harus memikirkan diri sendiri secara egois.

Justru dalam Islam, amal saleh memiliki dampak yang luas.

Sedekah membantu orang lain.

Menolong tetangga mempererat persaudaraan.

Memaafkan orang lain membersihkan hati.

Mengajarkan ilmu memberikan manfaat yang dapat terus mengalir.

Membesarkan anak dengan akhlak yang baik dapat menjadi amal yang manfaatnya panjang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

«“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)»

Betapa indahnya.

Kita hidup hari ini, tetapi sebagian amal kita dapat terus memberikan manfaat bahkan setelah tubuh kita tidak lagi berada di dunia.

--

Saya yang Sekarang dan Saya yang Akan Datang

Maka setiap kali saya berdiri dalam salat jenazah, saya ingin mencoba melihat lebih jauh daripada sekadar sebuah jenazah.

Saya ingin melihat masa depan saya sendiri.

Jenazah itu seperti sebuah cermin.

Ia berkata tanpa suara:

«"Jangan terlalu lama mengejar dunia. Kamu akan sampai di tempatku."»

Ia mengingatkan:

«"Jangan terlalu sibuk menghitung apa yang kamu miliki. Hitunglah apa yang akan kamu bawa."»

Ia juga mengingatkan:

«"Jangan hanya berharap orang lain mendoakanmu nanti. Mulailah mempersiapkan dirimu sekarang."»

Karena pada akhirnya, manusia tidak membawa rumahnya.

Tidak membawa mobilnya.

Tidak membawa jabatan.

Tidak membawa rekeningnya.

Tidak membawa popularitasnya.

Yang dibawa hanyalah amal.

---

Mungkin, Inilah Cara Paling Sederhana Memahami Kehidupan

Saya yang sekarang adalah amanah.

Saya yang akan datang adalah sebuah kepastian yang sedang menunggu.

Di antara keduanya ada waktu yang disebut kehidupan.

Dan setiap detik kehidupan sebenarnya adalah kesempatan untuk mempersiapkan pertemuan dengan diri kita sendiri di alam yang berikutnya.

Karena itu, ketika nanti saya kembali berdiri di belakang jenazah, saya ingin mengingat satu kalimat:

"Hari ini saya mendoakan dia. Besok mungkin orang lain yang mendoakan saya."

Maka sebelum hari itu tiba, saya ingin lebih banyak berbuat baik.

Lebih banyak meminta ampun kepada Allah.

Lebih banyak memaafkan.

Lebih banyak bersedekah.

Lebih banyak membantu.

Lebih banyak menjaga lisan.

Lebih banyak beribadah.

Dan lebih banyak mengingat bahwa kehidupan dunia ini bukan tempat untuk tinggal selamanya.

Kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama.

Kematian bukan akhir dari perjalanan, tetapi pintu menuju kehidupan yang berikutnya.

Dan mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:

"Kapan saya akan mati?"

Melainkan:

"Ketika saat itu tiba, saya ingin bertemu dengan diri saya yang mana?"

Saya yang penuh penyesalan?

Ataukah saya yang telah berusaha mempersiapkan diri untuk menghadap Allah?

Pilihan itu sedang kita buat hari ini.

Sedikit demi sedikit.

Amal demi amal.

Hari demi hari.

Sampai akhirnya, tanpa kita sadari, perjalanan itu sampai pada waktunya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.”

Semoga ketika tiba waktunya nanti, Allah menerima kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Read More

Rabu, 23 September 2026

September 23, 2026 | Posted in , by cme2 | No comments

 


Setiap hari seorang mukmin membaca minimal 9 kali syahadat dan 17 kali surat Al-Fatihah, yaitu dalam shalat. Sehingga Al-Fatihah menjadi doa yang berulang-ulang hadir dalam kehidupan kita.

Di dalam surat al Fatihah ada satu permohonan yang sangat menentukan keselamatan hidup kita:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Pertanyaannya: mengapa orang yang sudah beriman masih harus berkali-kali meminta petunjuk dan hidayah?

Karena hidayah bukan hanya persoalan mengetahui kebenaran, tetapi juga tentang menerima kebenaran, mencintainya, mengamalkannya, istiqamah di atasnya, dan meninggal dunia dalam keadaan berada di atas jalan kebenaran yang diridhai Allah Swt.

Orang beriman tidak hanya meminta hidayah sekali saja ketika ia masuk Islam, tetapi selalu meminta agar setiap saat ditunjukkan, ditolong, diteguhkan, dan ditambah dalam hidayah.

Para mufasir menjelaskan bahwa *ihdina* mengandung makna meminta agar Allah Swt menunjukkan, membimbing, memberikan taufik, dan meneguhkan kita di atas jalan yang lurus. Ibn Katsir menjelaskan bahwa jalan lurus itu adalah jalan Islam yang mengantarkan kepada keridhaan Allah dan surga-Nya.

Maka ketika kita membaca:

 ٱهۡدِنَا 

 “Tunjukilah kami,”

seakan-akan kita berkata dan memohon:

“Ya Allah, jangan hanya tunjukkan kepadaku jalan-Mu. Bimbing aku untuk menjalaninya. Berikan aku kemampuan untuk mengamalkannya. Teguhkan aku di atasnya. Jangan biarkan aku menyimpang darinya.”

Dan inilah pentingnya doa tersebut.

Rasulullah Saw bahkan mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي


“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah aku.”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa *huda* adalah seperti petunjuk menuju jalan, sedangkan *sadad* adalah ketepatan seperti tepatnya arah anak panah. (HR. Muslim no. 2725a).


Ada satu hal yang sangat menarik. Setelah kita, saat membaca al Fatihah, memuji Allah sebagai Rabbul 'alamin, Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Maliki yaumiddin, kita berkata:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Barulah kita meminta:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ


Ini berarti, hidayah sangat erat hubungannya dengan ibadah dan pertolongan Allah Swt.

Rasulullah Saw meriwayatkan bahwa ketika seorang hamba membaca ayat ini, Allah Swt berfirman bahwa permintaan itu adalah untuk hamba-Nya dan hamba tersebut memperoleh apa yang dimintanya. (HR. Muslim no. 395).

Dengan demikian janganlah kita hanya membaca Al-Fatihah dengan lisan saja.

Ketika mengucapkan اهْدِنَا, hadirkan dalam hati kita:

“Ya Allah, saya membutuhkan hidayah-Mu setiap saat.” Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hati kita esok hari, bahkan setelah kita membaca doa tersebut.

Terkait permohonan hidayah ini, kita perlu lihat Firman Allah Swt ini:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Saff: 5).

Karena itu, persoalan terbesar tentang hidayah ini bukan sekadar apakah mata kita melihat kebenaran, tetapi apakah hati kita mau tunduk kepada kebenaran tersebut.

Allah berfirman kepada Nabi Saw:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hidayah taufik adalah karunia dan hak prerogatif Allah Swt.

Maka kita jangan pernah merasa aman dengan iman kita.

Janganlah kita berkata, “Saya sudah lama mengaji.” Jangan berkata, “Saya sudah banyak beribadah.” Tetapi setiap hari selalu katakan:


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ


“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan teguhkanlah kami di atasnya.” Sebab yang kita butuhkan bukan hanya hidayah untuk mengetahui yang benar, tetapi juga hidayah untuk mencintai yang benar, mengamalkan yang benar, istiqamah dalam kebenaran, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.


Ada tiga hal yang mesti kita perhatikan agar doa *ihdinash shirathal mustaqim* benar-benar hidup dalam diri kita.

*Pertama,* terus belajar tentang kebenaran.

Hidayah membutuhkan ilmu.

*Kedua,* tunduk dan ikuti ketika kebenaran telah jelas. Jangan biarkan kesombongan, kepentingan, kebiasaan, atau hawa nafsu mengalahkan kebenaran.

*Ketiga,* minta terus kepada Allah Swt agar diteguhkan hati dalam memahami dan menjalankan kebenaran tersebut. Sebab hati manusia dapat berubah, setiap saat.

Dengan alur: mengetahui → menerima → mengamalkan → istiqamah → wafat dalam hidayah. Para ulama juga menjelaskan ihdinā sebagai permohonan agar ditunjukkan sekaligus diteguhkan di jalan yang lurus.

Karena itu, setiap membaca Al-Fatihah, kita sebaiknya tidak sekadar hanya menyelesaikan bacaannya.

Tetapi resapi betul doa ini:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Semoga Allah Swt memberikan kepada kita hidayah ilmu, hidayah iman, hidayah amal, hidayah istiqamah, dan hidayah husnul khatimah.

Wa Allaahu 'alam 

Semoga bermanfaat.

Bandung 16-09-26

Read More
September 23, 2026 | Posted in by cme2 | No comments

 

(Sebuah Catatan Hati dan Refleksi Forensik Bu Guru Menatap Punggung Sang Ksatria Data yang Berjalan Menjauh dari Lapangan Banteng)


Sahabatku, tolong letakkan cangkir kopimu sebentar. Berhenti menggulir layar ponselmu. Tarik napas sedalam-dalamnya, dan izinkan dada kita bergetar bersama keheningan pagi ini.


Ada rasa sesak yang tak terkatakan di relung hati Bu Guru. Sebagai pendidik yang bertahun-tahun mengajak anak-anak bangsa mencintai angka dan merawat harapan bahwa negeri ini bisa berdiri tegak di atas martabatnya sendiri, awal pekan 14 September 2026 ini menyisakan perih yang teramat menusuk.


Di Minangkabau, tanah leluhur para pemikir bangsa, orang tua-tua kita punya untaian rasa ketika ketulusan berbenturan dengan dinginnya dinding kekuasaan:


"Bakcando bulan di malam hari, memberikan cahaya palito panerang jalan, tapi kini tahadang dek awan kalam. Bukan karano cahayonyo nan pudar, tapi karano gayuang nan indak basambuik, kato nan indak bajawek, caka nan indak babaleh... Bialah denai nan mangalah."


Hari itu, Dr. Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc., Ph.D.—sosok insinyur dan doktor ekonomi yang kita sapa hangat sebagai "Pak Pur"—resmi mengakhiri masa pengabdiannya sebagai Bendahara Umum Negara.


Bukan vonis pengadilan yang mencopotnya, bukan skandal korupsi yang mencoreng namanya, dan bukan pula ketidakmampuan berhitung yang menumbangkannya. Beliau tersingkir justru saat sedang berdiri tegak mengokang senjata data, menembakkan amunisi ke sarang-sarang peredaran uang gelap yang selama ini menghisap darah ibu pertiwi.


Mari kita buka kembali lembar demi lembar rekam jejak perjuangannya—sebuah kronik tentang nyali seorang menteri yang berani melawan arus kemapanan demi kedaulatan bangsanya.


BABAK I: TELEPON ITU DATANG SAAT BELIAU MEMBELA MARTABAT REPUBLIK


Senin siang, 14 September 2026. Jarum jam menunjuk ke angka perdebatan panas di ruang rapat kerja Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan.


Pak Purbaya duduk dengan wajah tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Di hadapan para senator wakil daerah, Pak Pur membongkar borok yang membuat siapa pun yang berdarah merah-putih pasti mendidih ubun-ubunnya: praktek pengemplangan pajak terstruktur oleh 40 pabrik baja asal China yang beroperasi secara cash-basis di tanah air.

Dengan nada bicara bergetar menahan amarah, beliau menirukan ucapan congkak para pengusaha asing tersebut:

"Orang perusahaan-perusahaan sana itu menghina kita. Mereka bilang begini: 'Nggak ada gunanya kita ikutin peraturan Indonesia, orang Indonesia enggak akan bisa berubah, dibayar selesai!' Itu kan menghina kita, Pak! Dan saya nggak ada kompromi yang seperti itu. Kita akan hantam!"


Pak Pur membeberkan fakta lapangan: pengusaha domestik taat membayar pajak, sementara puluhan pabrik asing itu bertransaksi tunai dan melarikan keuntungan triliunan rupiahnya ke luar negeri. Ketika beliau melakukan sidak ke kawasan industri Pulogadung, ditemukan satu pabrik saja menunggak pajak minimal Rp 200 miliar, dan jika diusut tuntas dengan aturan ketat nilainya menembus Rp 1 triliun per perusahaan!


Namun, kepedihan terbesar terungkap saat beliau memerintahkan aparat pemeriksa di Direktorat Jenderal Pajak untuk masuk mengaudit 40 pabrik itu. Apa yang terjadi? Tidak ada satu pun perusahaan yang bergerak diperiksa! Pak Pur mencium bau busuk: ada oknum internal yang bermain mata dan melindungi para pengemplang. Beliau meradang dan bertekad membersihkan jajarannya.


Tepat di tengah perjuangannya memaparkan kebocoran itu, dering telepon genggam berbunyi. Suara di seberang berasal dari sosok yang beliau panggil takzim: "Bapak".


"Halo Pak. Iya, siap-siap. Saya masih di DPD, Pak..."


Pak Purbaya beberapa kali membungkukkan badannya dengan penuh kesantunan. Beliau pamit undur diri dari ruang sidang. Dan hanya berselang beberapa jam kemudian, di sore hari yang sama, Istana Negara mengumumkan pelantikan pejabat baru.


Duh Gusti... Sungguh sebuah pemandangan yang menyayat hati. Seorang menteri yang sedang berpeluh keringat mempertahankan kedaulatan hukum di meja wakil rakyat, dicopot dengan cara kilat yang melukai rasa kepatutan etika publik. Apakah pengungkapan 40 pabrik baja dan pembangkangan oknum pajak itu menjadi peluru terakhir yang membuat oligarki dan para mafia rente gerah, hingga tombol darurat politik ditekan untuk menghentikan langkahnya?


BABAK II: MENGGUNCANG DOGMA — MISTERI RP 1.000 TRILIUN YANG "DISEKAP"


Sahabatku, sebelum hari pencopotan yang dramatis itu, Pak Purbaya telah menorehkan sejarah perlawanan intelektual yang luar biasa terhadap hegemoni mazhab ekonomi ketakutan.


Ingatkah kalian ketika media-media arus utama dan para pengamat penjual pesimisme menakut-nakuti rakyat bahwa Indonesia akan "kiamat" karena defisit APBN membengkak? Pak Pur tersenyum dan menggelar kalkulator numerasi di depan publik. Beliau membedah: Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bernilai lebih dari Rp 20.000 triliun. Defisit anggaran Rp 500-an triliun itu hanyalah 2,5%—ibarat warung dengan omzet Rp 20 juta yang kurang uang belanja Rp 500 ribu. Masih sangat jauh dari batas merah kebangkrutan!


Lalu, beliau menyingkap gajah di pelupuk mata yang sengaja disembunyikan oleh para teknokrat ortodoks: ada sekitar Rp 1.000 triliun likuiditas uang tunai negara yang mengendap, "disekap" di Bank Indonesia, didepositokan oleh Pemda yang malas belanja, dan ditimbun di kementerian yang lamban!


Pak Pur memukul meja: Untuk apa kita merengek mencari utang ke luar negeri berbunga mahal, jika di laci lemari republik ini ada dana Rp 1.000 triliun yang tidur nyenyak hanya karena para birokrat terlalu takut memutarnya?


Beliau menolak dogma IMF dan Bank Dunia yang memuja stabilitas semu di atas penderitaan rakyat. Beliau menarik Rp 75 triliun dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari tidur panjangnya di brankas perbankan, lalu memaksa bank-bank BUMN mengucurkan likuiditas ratusan triliun rupiah ke sektor riil. Baginya, uang negara adalah darah peradaban; jika uang berhenti mengalir di nadi rakyat, ekonomi akan menjadi mayat hidup (zombie economy).


BABAK III: KETIKA BANK DUNIA TERTUNDUK DAN MEMINTA MAAF DI WASHINGTON


Puncak heroisme diplomasi data Pak Pur terjadi di panggung dunia. Ketika Bank Dunia dengan angkuh memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% akibat lonjakan minyak dunia, Pak Pur terbang ke Washington menembus dinginnya markas lembaga finansial global tersebut.


Beliau tidak datang untuk mengemis atau mengangguk patuh layaknya inlander. Beliau menyodorkan pembuktian matematis (mathematical absurdity) di hadapan para ekonom Bank Dunia:


Kuartal I ekonomi Indonesia terbukti tumbuh di kisaran 5,5% hingga 5,6%.


Jika Bank Dunia menetapkan rata-rata tahunan hanya 4,7%, secara aritmatika mereka meramalkan Indonesia akan mengalami resesi ekstrem di kuartal berikutnya—sebuah asumsi yang mustahil di tengah ledakan penerimaan pajak dan perputaran konsumsi riil.


Model ekonometrika Bank Dunia cacat (anchoring bias) karena gagal menangkap sifat tangguh (antifragile) rakyat Indonesia.


Hasilnya? Lembaga raksasa dunia itu tertunduk. Dalam pertemuan tertutup di Washington, perwakilan penyusun proyeksi tersebut secara ksatria menyampaikan permohonan maaf kepada Menteri Purbaya:


"He apologized for lowering the outlook too quickly..."


Pak Pur menjawabnya dengan kepala tegak: "Tidak apa-apa, tapi ke depan, saya akan buktikan ramalan kalian keliru karena fondasi bangsa kami kuat!"


Beliau bahkan menyiapkan benteng kedaulatan moneter yang revolusioner: mendorong implementasi Bullion Bank (Ekosistem Perbankan Emas) dan skema pembayaran ganda (Rupiah-Emas fisik) agar nilai tukar rupiah tidak terus-menerus didikte dan diinjak-injak oleh hegemoni dolar fiat Barat.


BABAK IV: SANG ROBIN HOOD FISKAL DAN PEPERANGAN DI LINGKAR KEKUASAAN


Siapakah menteri yang berani menolak perintah manis lembaga multilateral dan membela perut rakyat kecil? Pak Pur orangnya.


PMK 105/2025: Beliau memasang turniket penahan pendarahan daya beli dengan menanggung 100% PPh Pasal 21 bagi 1,7 juta buruh pabrik tekstil, alas kaki, dan pariwisata bergaji hingga Rp 10 juta.


PMK 90/2025: Menghapus PPN perumahan untuk menggerakkan lokomotif 170 industri turunan semen, bata, pasir, hingga warung makan tukang bangunan.


Bea Keluar Batu Bara Progresif: Menghentikan pesta pora toke tambang. Tanah air dikeruk, maka hasil buminya wajib dikembalikan untuk subsidi rakyat jelata.


Menghantam Under-Invoicing: Membawa map 10 eksportir kakap CPO dan batu bara langsung ke Kejaksaan Agung dan BPKP karena menggelapkan devisa ratusan triliun rupiah melalui transaksi transfer abu-abu di Singapura.


Namun, keberanian tanpa kompromi ini membuatnya berdiri sendirian di tengah kepungan badai:


Berselisih dengan Bank Indonesia: Pak Pur ingin menginjak gas pertumbuhan menembus 6%, membanjiri likuiditas perbankan; sementara Bank Sentral bersikukuh menginjak rem demi kurs rupiah.


Menolak Skema Beban Utang Whoosh di Kas Negara: Beliau bersikeras bahwa utang proyek infrastruktur dan operasional Danantara tidak boleh seenaknya dibebankan ke APBN murni . Beliau menuntut setoran dividen tunai Rp 120 triliun demi menambal belanja rakyat, yang seketika memicu resistensi keras para elit pengelola investasi negara.


Pembongkaran Internal yang Berujung Pembangkangan: Saat beliau hendak menyapu bersih mafia dan oknum di Ditjen Pajak dan Bea Cukai lewat mutasi ratusan pejabat, rantai komando justru pecah dari dalam. Surat edaran penolakan beredar, dan istana memilih mengorbankan sang pendobrak demi menjaga ketenangan semu.


Ini pengamatan hasil riset ...salah benarnya ...wallahualam.


REFLEKSI MENINGGALKAN LAPANGAN BANTENG: KAMI MENARUH HORMAT, PAK PUR! 👀🧠💕


Sahabat smart  Bu Guru tercinta... Politik kekuasaan mungkin telah mencopot jabatannya. Panggung formal kabinet mungkin tidak lagi menyediakan kursi empuk bagi langkah kakinya.


Tetapi sejarah perbendaharaan Republik Indonesia akan mencatat dengan tinta emas: pernah ada seorang menteri berhati ksatria yang tidak silau oleh tepuk tangan pengamat asing, tidak sudi berkompromi dengan pengemplang pajak impor-ekspor, dan menolak membiarkan rakyatnya kelaparan di atas tumpukan uang kas negara yang disekap!


Pak Purbaya mungkin kalah dalam orkestra intrik birokrasi, tetapi beliau menang telak di hati rakyat yang merindukan keadilan hakiki. Beliau membuktikan bahwa pesimisme ekonomi adalah racun pikiran, dan bangsa ini sesungguhnya kaya raya jika para pemimpinnya punya nyali untuk menutup keran maling-maling devisa.


Kepada Prof. Suahasil Nazara, selamat menjalankan tugas berat menjaga kapal APBN. Seluruh rakyat berharap nyali Pak Pur membersihkan 40 pabrik baja nakal dan sindikat under-invoicing tidak ikut terkubur di bawah meja kerja yang baru.


Dan untuk Pak Purbaya Yudhi Sadewa... Tegakkan kepalamu, Pak. Tatap langit nusantara dengan senyuman tulus. Ayunkan langkahmu keluar dari gerbang Lapangan Banteng dengan dada membusung. Engkau keluar bukan karena mencuri sepeser uang rakyat, melainkan karena engkau terlalu berani membela kehormatan bangsa ini di hadapan para penghina kedaulatan Indonesia.


Terima kasih pernah menjadi lentera di malam yang kelam. Terima kasih pernah mengajari kami arti keberanian ekonomi. Terima kasih pernah berbuat dan berdarah-darah untuk Indonesia tercinta!


Dan ..bulir air mata ini benar 2 membasahi pipi di akhir cerita ini. 

Karna semangat harapan fiskal  Indonesia bermartabat agak sedikit goyah bisa di wujudkan ...


Salam Cinta, Bangga Untuk mu Pak, 

dan Sayang Literasi Numerasi, Bu Guru 💕

#SelamatJalanPakPur #TerimaKasihPurbaya #PurbayaYudhiSadewa #KsatriaEkonomi #MelawanPengemplangPajak #KedaulatanData #BongkarPabrikBajaNakal #APBNUntukRakyat #LiterasiNumerasi #BuGuruBercerita.

#AdR

Kep,ITB 

Read More
September 23, 2026 | Posted in , , , , by cme2 | No comments





Cimahpar Endah 2, RW 11 — 23 September 2026

Rabu pagi menjadi hari yang berbeda bagi APRAK (Ajang Pejalan Kaki) Cimahpar Endah 2 RW 11. Bukan sekadar berjalan kaki di sekitar lingkungan, kali ini APRAK melakukan perjalanan Sufei atau wisata santai untuk menikmati suasana alam dan mempererat persahabatan.

Tepat sekitar pukul 09.00 WIB, perjalanan dimulai. Empat orang anggota APRAK ikut dalam kegiatan kali ini, yaitu Ade Rusliana, Pak Husna, Pak Bagio, dan Pak Toni.

Tujuan perjalanan adalah salah satu destinasi alam yang cukup dikenal di Kabupaten Cianjur, yaitu Curug Cikondang.

Perjalanan ini bukan sekadar mencari pemandangan. Ada makan bersama, ibadah, olahraga, bercanda, menikmati suasana alam, hingga mencicipi kuliner dalam perjalanan pulang.


Curug Cikondang, Air Terjun Megah di Cianjur Selatan

Curug Cikondang berada di kawasan Desa Wangunjaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Portal resmi pariwisata Kabupaten Cianjur mencatat Curug Cikondang sebagai salah satu destinasi pariwisata daerah.

Curug ini memiliki karakter yang sangat khas. Aliran airnya membentang lebar di dinding tebing sehingga dari kejauhan terlihat seperti tirai air raksasa.

Tidak mengherankan apabila Curug Cikondang sering dijuluki "Niagara Mini".

Menurut ANTARA, Curug Cikondang memiliki ketinggian sekitar 100 meter, dengan beberapa undakan aliran air sebelum mencapai bagian dasar sungai. Kawasan wisatanya juga berada di tengah bentang alam yang hijau, dengan perkebunan teh dan persawahan di sepanjang perjalanan.

Keindahan tersebut membuat perjalanan menuju Curug Cikondang sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman wisata.


Sejarah Pengembangan Curug Cikondang

Curug Cikondang bukan destinasi yang tiba-tiba terkenal.

Menurut keterangan pengelola yang dikutip ANTARA, kawasan Curug Cikondang mulai dikelola sebagai objek wisata sejak 2017. Pada masa pengembangannya, sejumlah fasilitas dan tempat swafoto mulai disiapkan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan.

Kawasan wisata Curug Cikondang memiliki area sekitar 5 hektare. Salah satu daya tariknya adalah warung-warung yang berada di kawasan curug sehingga pengunjung dapat menikmati makanan sambil melihat langsung panorama air terjun.

Karakter alamnya juga membuat kawasan ini tidak hanya menarik bagi wisatawan keluarga, tetapi juga bagi pencinta aktivitas petualangan seperti trekking dan aktivitas di sekitar tebing dan aliran air.


Data Singkat Curug Cikondang

Nama: Curug Cikondang
Lokasi: Desa Wangunjaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
Ketinggian: sekitar 100 meter
Luas kawasan: sekitar 5 hektare
Jam operasional: sekitar 08.00–17.00 WIB menurut portal resmi pariwisata Cianjur
Fasilitas: mushola, area parkir, kuliner dan area menikmati pemandangan
Tiket: portal resmi mencantumkan kisaran Rp5.000–Rp10.000.

Catatan tiket 2026: pemberitaan Juli–Agustus 2026 menyebut adanya perbedaan tarif berdasarkan asal wisatawan. Disbudpar Cianjur menindaklanjuti persoalan tarif Rp100.000 yang diberlakukan kepada wisatawan luar daerah; dalam penjelasan yang diberitakan RRI, wisatawan lokal disebut sekitar Rp5.000, sementara pemberitaan lain menyebut wisatawan lokal Rp10.000. Karena tarif dapat berubah, pengunjung sebaiknya memastikan harga saat datang.


Berapa Banyak Pengunjung Curug Cikondang?

Curug Cikondang ternyata bukan hanya ramai pada musim liburan.

Data yang diberitakan pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa jumlah pengunjung pada hari biasa berkisar 50–200 orang per hari, sedangkan pada akhir pekan dapat mencapai sekitar 400 orang.

Pada musim liburan panjang, jumlahnya bahkan dapat meningkat hingga sekitar 1.000 pengunjung dalam satu hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Curug Cikondang telah menjadi salah satu tujuan wisata alam yang cukup dikenal, khususnya bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam Cianjur Selatan.


Perjalanan APRAK Dimulai dengan Suasana Santai

Berbeda dengan perjalanan wisata yang penuh jadwal dan target, kegiatan APRAK kali ini benar-benar dibuat santai.

Setelah tiba di kawasan Curug Cikondang, rombongan menikmati suasana alam sambil makan bersama di warung yang tersedia di kawasan curug.

Suara air terjun, udara pegunungan dan pemandangan hijau membuat makan sederhana terasa lebih nikmat.

Inilah salah satu keindahan kegiatan APRAK:

Tidak harus mahal untuk bahagia.

Terkadang, makanan sederhana yang disantap bersama teman-teman di tengah alam justru meninggalkan kenangan yang lebih kuat.


Jangan Lupa Ibadah

Di tengah kegiatan wisata, APRAK tetap menyempatkan diri untuk melaksanakan salat.

Bagi APRAK, jalan-jalan bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Justru perjalanan ke alam dapat menjadi kesempatan untuk semakin menyadari kebesaran Allah SWT.

Air yang jatuh dari ketinggian, pepohonan yang hijau, udara yang sejuk dan bentang alam yang indah merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Allah SWT berfirman:

فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

"Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah matinya."

(QS. Ar-Rum: 50)


Pak Bagio: Tidak Hanya Melihat Air, tetapi Ikut Nyemplung!

Perjalanan tentu tidak lengkap tanpa cerita lucu.

Saat berada di Curug Cikondang, Pak Bagio memilih untuk berenang.

Ketika yang lain menikmati pemandangan dan suasana, Pak Bagio justru menikmati airnya secara langsung.

Inilah yang membuat perjalanan APRAK menjadi lebih hidup.

Ada yang berjalan, ada yang makan, ada yang menikmati pemandangan, ada yang beribadah, dan ada pula yang langsung berbasah-basahan menikmati alam.

Namun tentu saja, aktivitas di sekitar air terjun harus tetap memperhatikan kondisi arus, kedalaman dan keselamatan.

Alam dinikmati, keselamatan tetap nomor satu.


Curug Cikondang: Bukan Sekadar Tempat Berfoto

Bagi sebagian orang, wisata air terjun mungkin hanya dianggap sebagai tempat berfoto.

Namun bagi APRAK, perjalanan seperti ini mempunyai makna yang lebih luas.

Ada kesempatan untuk:

  • menggerakkan tubuh;
  • menghirup udara segar;
  • menikmati keindahan alam;
  • mengurangi kejenuhan;
  • mempererat persahabatan;
  • bercanda dan tertawa bersama;
  • menikmati kuliner lokal;
  • serta mensyukuri nikmat Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah..."

(HR. Muslim)

Kekuatan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang semangat menjalani kehidupan dengan sehat, positif dan bermanfaat.


Pulang, Mampir Sate Cireunghas

Setelah puas menikmati Curug Cikondang, rombongan kemudian memulai perjalanan pulang.

Tetapi perjalanan belum benar-benar selesai.

Dalam perjalanan, rombongan mampir terlebih dahulu untuk menikmati sate Cireunghas, kuliner yang dikenal di kawasan tersebut.

Dagingnya yang empuk dan rasanya enak menjadi penutup perjalanan yang sangat pas.

Setelah menikmati sate, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Cimahpar Endah 2.


Tiba di Cimahpar Endah 2 Pukul 15.30 WIB

Setelah seharian menikmati perjalanan, rombongan APRAK akhirnya kembali ke Cimahpar Endah 2 sekitar pukul 15.30 WIB.

Perjalanan sederhana selama kurang lebih setengah hari itu meninggalkan banyak cerita.

Bukan tentang seberapa jauh perjalanan ditempuh.

Bukan pula tentang berapa banyak tempat yang dikunjungi.

Tetapi tentang kebersamaan.

Empat orang berangkat bersama, menikmati alam bersama, makan bersama, beribadah, bercanda, dan akhirnya pulang bersama.


APRAK: Sehat Badannya, Senang Hatinya, Erat Persaudaraannya

Kegiatan seperti Sufei Curug Cikondang menjadi bagian dari semangat APRAK Cimahpar Endah 2 RW 11.

APRAK bukan hanya komunitas untuk berjalan kaki.

APRAK adalah ruang untuk bersilaturahmi, menjaga kebugaran, menikmati alam, berbagi cerita dan membangun persahabatan.

Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk hidup sehat dan menikmati kehidupan jangan sampai berkurang.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."

(QS. Al-Qashash: 77)

Menikmati alam, bersilaturahmi dan menjaga kesehatan dapat menjadi bagian dari rasa syukur atas nikmat kehidupan, selama tetap dilakukan dengan cara yang baik dan tidak melupakan kewajiban kepada Allah SWT.

APRAK CIMAHpar ENDAH 2 RW 11

Jalan sehat — wisata sehat — silaturahmi — bahagia bersama.

Salam APRAK!
Sehat, kompak, ceria!

Read More
September 23, 2026 | Posted in , , , by cme2 | No comments

 




Pengajian Rutin Masjid Al Hidayah RW 11: Menundukkan Kesombongan, Membersihkan Hati, dan Memilih Jalan Kebaikan

Cimahpar Endah 2, RW 11 — Ada kalanya manusia merasa sudah cukup baik karena memiliki ilmu, harta, jabatan, pengalaman, atau berbagai keberhasilan dalam hidup. Padahal, semakin banyak yang Allah SWT titipkan kepada kita, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan kerendahan hati.

Pesan itulah yang menjadi salah satu renungan penting dalam pengajian rutin di Masjid Al Hidayah, Cimahpar Endah 2, RW 11.

Pengajian kali ini mengajak jamaah untuk tidak hanya memperbanyak pengetahuan agama, tetapi juga melakukan muhasabah, melihat kembali keadaan hati, lisan, pergaulan, harta dan amal yang selama ini kita jalani.

Sebab, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri.


Jangan Sombong, Karena Semua yang Kita Miliki Hanya Titipan

Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah sombong dan takabur.

Manusia terkadang lupa bahwa apa yang dimilikinya hari ini—harta, jabatan, kepandaian, kesehatan, keluarga, bahkan kesempatan untuk hidup—semuanya adalah pemberian Allah SWT.

Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis qudsi:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

"Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa menandingi-Ku dalam salah satunya, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka."
(HR. Muslim)

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)

Maka, semakin tinggi seseorang kedudukannya, seharusnya semakin rendah hatinya.

Karena yang kita miliki bukan benar-benar milik kita. Semuanya hanya amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.


Jangan Menjadi Orang yang Berhenti Belajar

Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti mencari ilmu.

Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, jabatan boleh berakhir, tetapi semangat menuntut ilmu seharusnya tidak pernah berhenti.

Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar: 9)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ilmu bukan untuk membuat seseorang merasa paling pintar.

Ilmu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa ternyata masih banyak yang belum kita ketahui.

Dan ilmu yang paling indah adalah ilmu yang kemudian berubah menjadi amal dan akhlak.


Pilih Teman yang Membawa Kita Mendekat kepada Allah

Pergaulan bukan perkara kecil.

Teman yang kita pilih dapat memengaruhi cara berpikir, cara berbicara, bahkan arah kehidupan kita.

Allah SWT berfirman:

وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."
(QS. At-Taubah: 119)

Rasulullah SAW bersabda:

"Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Karena itu, gaul harus tetap gaul, tetapi jangan kehilangan kendali.

Bergaullah dengan orang berilmu, orang saleh, orang yang rendah hati, orang yang suka mengingatkan kepada kebaikan dan orang yang membuat kita malu untuk berbuat buruk.

Jangan sampai sebuah pergaulan justru membuat kita kehilangan rasa malu, meninggalkan ibadah, terbiasa bergunjing, suka mencela, atau menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.

Allah SWT mengingatkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Ma'idah: 2)


Jangan Malu Duduk Bersama Orang Miskin

Ada orang yang senang ketika berada di tengah orang-orang kaya, tetapi merasa kurang nyaman ketika harus duduk bersama orang miskin.

Islam mengajarkan sebaliknya: jangan pernah merendahkan manusia karena keadaan ekonominya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)

Kekayaan bukan ukuran kemuliaan.

Jabatan bukan ukuran kemuliaan.

Pendidikan bukan ukuran kemuliaan.

Kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah ketakwaannya.

Bergaul dengan orang yang sederhana dan miskin dapat mengajarkan kita untuk bersyukur, peduli, berbagi dan menyadari bahwa kehidupan dunia tidak selamanya berada di atas.


Empat Resep Menjaga Kebahagiaan Hati

Dalam pengajian juga disampaikan empat nasihat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

1. Ingat Dosa agar Segera Bertobat

Jangan merasa terlalu suci.

Tetapi jangan pula merasa terlalu kotor sehingga putus asa dari rahmat Allah.

Ingatlah dosa agar kita segera memperbaikinya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
(QS. Az-Zumar: 53)

Kesalahan masa lalu bukan alasan untuk berhenti menjadi baik.

Yang penting bukan siapa yang tidak pernah berdosa, tetapi siapa yang mau kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan.


2. Jangan Sibuk Menghitung Kebaikan Diri Sendiri

Kadang-kadang kita lebih mudah mengingat kebaikan yang sudah kita lakukan daripada kesalahan yang masih kita kerjakan.

"Sudah banyak saya membantu."

"Sudah banyak saya bersedekah."

"Sudah banyak saya berbuat baik."

Hati-hati. Amal yang dibanggakan dapat menjadi pintu kesombongan.

Allah SWT berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."
(QS. An-Najm: 32)

Berbuat baiklah, kemudian lupakan kebaikan itu.

Biarkan Allah yang mencatatnya.


3. Dalam Urusan Akhirat, Lihat Orang yang Lebih Rajin Beribadah

Jika kita ingin meningkatkan ibadah, lihatlah orang-orang yang lebih rajin daripada kita.

Lihat mereka yang lebih istiqamah salatnya.

Lebih rajin membaca Al-Qur'annya.

Lebih banyak sedekahnya.

Lebih sabar menghadapi kehidupan.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)

Jadikan kebaikan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk iri.


4. Dekat dengan Orang Sederhana agar Hati Tidak Terlena Dunia

Ketika kita melihat orang yang kehidupannya lebih sulit, seharusnya tumbuh rasa syukur dan kepedulian.

Allah SWT berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."
(QS. Al-Insan: 8)

Kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki.

Kebahagiaan juga tentang mampu berbagi.


Rezeki yang Dicari Harus Halal dan Baik

Manusia diperintahkan untuk bekerja dan berusaha.

Tetapi bukan sekadar mendapatkan banyak uang.

Yang harus dicari adalah kasab hasanah, usaha yang baik, halal dan membawa keberkahan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

"Wahai manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik."
(QS. Al-Baqarah: 168)

Maka rezeki hendaknya dicari melalui jalan yang halal.

Bukan melalui penipuan.

Bukan melalui kecurangan.

Bukan melalui mengambil hak orang lain.

Bukan melalui usaha yang diharamkan.

Sedikit tetapi halal dan berkah jauh lebih menenangkan hati daripada banyak tetapi membawa masalah dan dosa.


Bersihkan Hati dari Su'uzan

Salah satu sumber kegelisahan manusia adalah terlalu banyak berprasangka buruk kepada orang lain.

Belum tahu kenyataannya, tetapi sudah membuat kesimpulan.

Belum mendengar penjelasannya, tetapi sudah menuduh.

Allah SWT berfirman:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

"Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Karena itu, biasakan husnuzan atau berprasangka baik.

Tidak semua yang kita dengar benar.

Tidak semua yang kita lihat menggambarkan keadaan sebenarnya.

Tidak semua orang yang berbeda dengan kita berarti buruk.

Rasulullah SAW bersabda:

"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih akan membuat kehidupan jauh lebih tenang.


Ilmu, Harta dan Lisan: Tiga Amanah yang Harus Dijaga

Ada tiga hal penting yang menjadi renungan dalam pengajian ini.

Beruntunglah orang yang memiliki ilmu kemudian mengamalkannya.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu."
(QS. Thaha: 114)

Beruntunglah orang yang memiliki harta kemudian menggunakannya untuk bersedekah.

Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai..."
(QS. Al-Baqarah: 261)

Dan beruntunglah orang yang mampu menjaga lisannya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebab satu kalimat dapat membuat orang bahagia, tetapi satu kalimat pula dapat menghancurkan persaudaraan.


Penutup: Mari Pulang dari Pengajian dengan Hati yang Berbeda

Pengajian bukan hanya tentang mendengar ceramah.

Pengajian adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah saya menjadi manusia yang lebih baik?

Sudahkah ilmu membuat saya rendah hati?

Sudahkah harta membuat saya gemar berbagi?

Sudahkah pergaulan membuat saya semakin dekat kepada Allah?

Sudahkah hati saya terbebas dari iri dan buruk sangka?

Sudahkah lisan saya aman dari menyakiti orang lain?

Sudahkah usaha saya benar-benar halal?

Dan yang paling penting:

Apakah setelah mengikuti pengajian, ada sesuatu dalam diri saya yang berubah menjadi lebih baik?

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Semoga pengajian rutin di Masjid Al Hidayah Cimahpar Endah 2 RW 11 senantiasa menjadi ruang untuk belajar, bermuhasabah, mempererat silaturahmi dan memperbaiki akhlak.

Semoga dari masjid ini lahir masyarakat yang berilmu tetapi rendah hati, berkecukupan tetapi gemar berbagi, kuat tetapi tidak sombong, bergaul luas tetapi tetap menjaga diri, serta memiliki hati yang bersih dan lisan yang membawa kedamaian.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

"Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk."

Masjid Al Hidayah Cimahpar Endah 2 RW 11
Tempat menuntut ilmu, memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan bersama-sama menuju ridha Allah SWT.

Selesai pengajian lanjut shalat Isya. Setelah shalat isya semua jemaah melangkah ke kediaman almarhum Ibu Didi / Bu Lilim untuk tahlilan hari ke 2.



Read More

Senin, 21 September 2026

September 21, 2026 | Posted in , , by cme2 | No comments

 




Musdesus Bahas PAW Kepala Desa pasirhalang: Musyawarah Mengedepankan Kesiapan, Efektivitas, dan Kepentingan Masyarakat

Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) terkait rencana Pemilihan Kepala Desa Pengganti Antar Waktu (PAW) digelar pada Senin, 21 September 2026, pukul 14.00–16.30 WIB. Musyawarah ini menjadi ruang penting bagi Pemerintah Desa, BPD, unsur masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk membicarakan masa depan kepemimpinan desa setelah Kepala Desa definitif sebelumnya meninggal dunia dan untuk sementara pemerintahan desa dijalankan oleh Penjabat (Pj.) Kepala Desa.

Acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan arahan dan pembinaan dari Camat serta Pj. Kepala Desa. Setelah itu panitia menyampaikan paparan mengenai rencana dan tahapan pelaksanaan PAW.

PAW: Antara Ketentuan Regulasi dan Kondisi Nyata Desa

Pembahasan PAW memang bukan persoalan sederhana. Di satu sisi, terdapat ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pengisian jabatan Kepala Desa apabila terjadi kekosongan karena Kepala Desa berhenti atau meninggal dunia dan sisa masa jabatannya masih lebih dari satu tahun.

Saat ini, regulasi nasional yang perlu menjadi perhatian adalah Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang mulai berlaku 27 Maret 2026 dan mencabut PP 43 Tahun 2014 beserta perubahannya. (Database Peraturan | JDIH BPK)

Dalam ketentuan terbaru tersebut, apabila Kepala Desa berhenti dengan sisa masa jabatan lebih dari satu tahun, Pj. Kepala Desa memfasilitasi penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa antarwaktu melalui Musyawarah Desa. Mekanisme PAW juga memiliki sejumlah tahapan persiapan, mulai dari pembentukan panitia, penganggaran, pendaftaran bakal calon, penelitian administrasi, sampai pelaksanaan Musyawarah Desa. (Bungko)

Kabupaten Sukabumi sebelumnya juga telah memiliki Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pemilihan Kepala Desa, yang mengatur Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu melalui Musyawarah Desa. (Database Peraturan | JDIH BPK) JDIH Kabupaten Sukabumi juga mencatat Peraturan Bupati Sukabumi Nomor 143 Tahun 2021 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak dan Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu melalui Musyawarah Desa sebagai peraturan yang berlaku. (JDIH Sukabumi)

Namun, karena PP 16 Tahun 2026 merupakan regulasi nasional yang lebih baru, teknis pelaksanaan di Kabupaten Sukabumi tentu perlu diselaraskan dengan ketentuan terbaru dan arahan Pemerintah Kabupaten/DPMD.

Musyawarah Berlangsung Dinamis

Setelah pemaparan panitia, forum kemudian memasuki sesi diskusi.

Suasana musyawarah berlangsung cukup dinamis. Berbagai pandangan disampaikan peserta, termasuk mengenai kesiapan pelaksanaan, kebutuhan anggaran, waktu, tenaga kepanitiaan, tahapan administratif, serta efektivitas pelaksanaan PAW dalam kondisi desa saat ini.

Sebagian peserta melihat bahwa PAW merupakan mekanisme yang perlu dilaksanakan sesuai ketentuan, sementara di sisi lain muncul pertimbangan bahwa pelaksanaan kegiatan harus benar-benar dipersiapkan dengan matang agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Perdebatan yang muncul dalam forum bukan semata-mata persoalan setuju atau tidak setuju terhadap PAW. Lebih jauh, pembahasannya menyentuh pertanyaan penting:

Apakah seluruh persyaratan, kesiapan anggaran, kepanitiaan, tahapan administrasi, calon, serta mekanisme Musyawarah Desa sudah benar-benar siap untuk dilaksanakan?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena PAW bukan sekadar memilih seseorang untuk mengisi jabatan Kepala Desa. Di dalamnya terdapat proses administratif dan kelembagaan yang harus dilakukan secara tertib.

Bahkan regulasi memberikan ruang terhadap persoalan kesiapan calon. Dalam ketentuan sebelumnya, misalnya, apabila calon yang memenuhi persyaratan belum mencapai jumlah minimal, pelaksanaan Musyawarah Desa dapat ditunda sampai waktu yang ditetapkan. Ketentuan teknis terbaru perlu tetap merujuk pada PP 16 Tahun 2026 dan aturan daerah yang telah disesuaikan. (Database Peraturan | JDIH BPK)

Hasil Musyawarah: Bukan Menolak PAW, tetapi Menata Kesiapan

Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang, arah kesepakatan forum lebih mengarah pada pilihan kedua, yaitu melakukan perbaikan dan penataan persiapan PAW terlebih dahulu, kemudian pelaksanaan PAW akan dijadwalkan kembali melalui mekanisme dan kewenangan yang sesuai.

Dengan demikian, hasil pembahasan tersebut lebih tepat dipahami sebagai:

PAW belum dibatalkan. Forum mengarah pada perlunya pembenahan kesiapan dan penjadwalan kembali sebelum tahapan PAW dilaksanakan.

Ini merupakan poin penting agar masyarakat tidak salah memahami hasil Musdesus.

Keputusan tersebut juga menunjukkan bahwa proses pengisian jabatan Kepala Desa tidak hanya mempertimbangkan aspek “bisa atau tidak bisa dilaksanakan”, tetapi juga “sudah siap atau belum dilaksanakan secara tertib, efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.”

Namun demikian, karena ketentuan nasional terbaru menetapkan kerangka waktu PAW, maka penjadwalan kembali tidak dapat dipahami sebagai penundaan tanpa batas. Tahapan dan jadwal selanjutnya tetap harus disesuaikan dengan PP Nomor 16 Tahun 2026, peraturan daerah/peraturan bupati yang berlaku, serta arahan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. (Database Peraturan | JDIH BPK)

Musyawarah Bukan Sekadar Mencari Suara Terbanyak

Yang menarik dari Musdesus ini adalah prosesnya.

Ada pendapat yang berbeda, ada argumentasi yang cukup panjang, bahkan terjadi perdebatan. Namun semuanya merupakan bagian dari dinamika demokrasi di tingkat desa.

Musyawarah desa memang bukan forum untuk menghilangkan perbedaan pendapat. Justru melalui musyawarah, berbagai kepentingan dan pertimbangan dapat disampaikan secara terbuka sehingga keputusan yang diambil dapat dipahami bersama.

Allah SWT berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa dalam mengurus kepentingan bersama, musyawarah merupakan bagian dari nilai kehidupan bermasyarakat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ

“Orang yang dimintai pendapat adalah orang yang dipercaya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Karena itu, ketika masyarakat memberikan pendapat dalam Musdesus, sesungguhnya terdapat amanah di dalamnya. Pendapat hendaknya disampaikan berdasarkan kepentingan bersama, bukan semata-mata kepentingan pribadi atau kelompok.

Efektivitas dan Efisiensi Tetap Harus Berjalan Bersama Regulasi

Pertimbangan mengenai dana, waktu dan tenaga dalam pelaksanaan PAW juga merupakan hal yang wajar untuk dibahas dalam forum.

Menariknya, regulasi sendiri tidak mengabaikan persoalan kemampuan desa. Dalam ketentuan mengenai panitia PAW pada regulasi sebelumnya, jumlah panitia disesuaikan dengan beban tugas dan kemampuan APB Desa. (Database Peraturan | JDIH BPK)

Artinya, penyelenggaraan PAW memang harus dilakukan secara tertib, tetapi kesiapan sumber daya dan pembiayaan juga merupakan bagian yang perlu dipersiapkan.

Karena itu, prinsip efektivitas, efisiensi, transparansi, akuntabilitas dan kepastian hukum perlu ditempatkan secara bersama-sama.

Jangan sampai karena mengejar kecepatan, persiapan menjadi kurang matang. Sebaliknya, jangan pula alasan efisiensi dijadikan dasar untuk mengabaikan kewajiban yang telah ditentukan oleh peraturan.

Di sinilah pentingnya koordinasi antara Pemerintah Desa, BPD, panitia, Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten.

Masyarakat Menunggu Kepastian

Bagi masyarakat desa, persoalan PAW pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi Kepala Desa.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana roda pemerintahan desa tetap berjalan dengan baik, pelayanan masyarakat tidak terganggu, pembangunan tetap berjalan, dan proses pengisian jabatan Kepala Desa berlangsung secara tertib serta dapat diterima masyarakat.

Hasil Musdesus hari ini dapat dipandang sebagai tahap untuk memperjelas langkah berikutnya: melakukan penataan, memperbaiki kesiapan yang masih diperlukan, berkoordinasi dengan pihak terkait, kemudian menentukan jadwal pelaksanaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Masyarakat tentu berharap proses berikutnya dapat berlangsung dengan suasana yang lebih tenang, terbuka dan terukur.

Sebab pada akhirnya, siapa pun yang nantinya menjadi Kepala Desa, tujuan utamanya tetap sama: pemerintahan desa yang berjalan baik dan masyarakat yang mendapatkan pelayanan terbaik.

Penutup

Musdesus hari ini memberikan satu pelajaran penting bahwa demokrasi di desa bukan hanya tentang pemilihan, tetapi juga tentang bagaimana keputusan bersama dibangun melalui proses mendengar, berdiskusi dan mempertimbangkan berbagai keadaan.

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan.

Sebagaimana semangat Al-Qur'an:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali 'Imran: 159)

Semoga proses selanjutnya menghasilkan keputusan yang sesuai regulasi, realistis dalam pelaksanaannya, transparan dalam prosesnya, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakat desa.

Musyawarah boleh panjang, pendapat boleh berbeda, tetapi kepentingan masyarakat hendaknya tetap menjadi titik temu bersama.



Read More

Minggu, 13 September 2026

September 13, 2026 | Posted in , , , by cme2 | No comments












Cimahpar Endah 2, RW 11 — Minggu, 13 September 2026

Semangat kemerdekaan tidak berhenti ketika perlombaan selesai dan bendera merah putih kembali berkibar dengan tenang. Justru, nilai-nilai kemerdekaan seperti kebersamaan, persatuan, kekompakan, kerukunan, kepedulian, dan gotong royong harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut terasa dalam acara Pembubaran Panitia HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026 di Cimahpar Endah 2 RW 11, yang dilaksanakan pada hari ini, Minggu, 13 September 2026, mulai pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB.

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Sekitar 40 orang hadir mengikuti rangkaian acara, yang terdiri atas panitia, pengurus lingkungan, serta warga Cimahpar Endah 2 RW 11.

Acara pembubaran panitia bukan sekadar kegiatan administratif untuk mengakhiri tugas kepanitiaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk bersyukur atas terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan HUT RI ke-81, memberikan penghargaan kepada para pemenang, serta mempererat kembali tali silaturahmi antarwarga.

Pembukaan

Acara diawali dengan pembukaan. Suasana terasa santai namun tetap penuh rasa kebersamaan. Setelah seluruh peserta berkumpul, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan panitia.

Dalam sambutannya, panitia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan HUT RI ke-81 di lingkungan Cimahpar Endah 2 RW 11.

Kesuksesan kegiatan tentu tidak mungkin dicapai hanya oleh beberapa orang. Berbagai kegiatan olahraga, permainan, hiburan, hingga kegiatan kebersamaan dapat terlaksana karena adanya dukungan warga dari berbagai RT.

Di sinilah nilai penting gotong royong terlihat nyata.

Ada yang menjadi panitia, ada yang menyiapkan perlengkapan, ada yang mengatur pertandingan, ada yang membantu konsumsi, ada yang menjadi peserta lomba, dan ada pula warga yang memberikan dukungan serta semangat.

Semua memiliki peran masing-masing.

RT 03 Raih Juara Umum

Salah satu momen yang paling ditunggu dalam acara tersebut adalah pemberian piala Juara Umum HUT RI ke-81 Cimahpar Endah 2 RW 11.

Berdasarkan hasil perlombaan, RT 03 berhasil meraih Juara Umum dengan perolehan:

🏆 3 medali emas

🥉 1 medali perunggu

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga RT 03. Namun demikian, semangat kompetisi dalam perlombaan hendaknya tidak membuat warga terpecah.

Menang dan kalah merupakan bagian dari sebuah pertandingan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh proses pertandingan mampu mempererat persaudaraan dan membuat warga semakin mengenal satu sama lain.

Piala memang hanya diberikan kepada juara, tetapi kebersamaan adalah kemenangan seluruh warga Cimahpar Endah 2 RW 11.

Sambutan Ketua RW 11

Dalam sambutannya, Ketua RW 11 menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan warga yang telah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian HUT RI ke-81.

Kegiatan seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi sarana untuk membangun kehidupan bertetangga yang semakin harmonis.

Cimahpar Endah 2 bukan hanya sekadar tempat tinggal. Lingkungan akan terasa nyaman apabila warganya saling mengenal, saling menyapa, saling membantu, dan saling menghargai.

Rumah yang bagus akan terasa kurang nyaman jika hubungan antarwarganya tidak harmonis. Sebaliknya, lingkungan sederhana akan terasa indah apabila dihuni oleh masyarakat yang rukun, kompak, dan saling peduli.

Karena itu, semangat yang telah dibangun selama peringatan HUT RI ke-81 hendaknya terus dipelihara.

Belajar dari Surat Al-Humazah

Kebersamaan juga harus dijaga dengan menghindari perilaku yang dapat merusak persaudaraan, seperti mencela, merendahkan, menggunjing, atau mencari-cari kesalahan orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”

(QS. Al-Humazah: 1)

Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan bermasyarakat harus dibangun dengan menjaga ucapan dan perilaku.

Jangan sampai kegiatan yang seharusnya mempererat persaudaraan justru menjadi sumber perselisihan karena perkataan yang menyakitkan.

Mari membiasakan diri untuk berbicara yang baik, menghargai perbedaan, tidak mudah tersinggung, tidak memperbesar masalah, serta mengutamakan musyawarah ketika terjadi persoalan.

Waktu, Kebersamaan, dan Kerugian

Semangat kebersamaan juga sejalan dengan pesan Allah SWT dalam Surat Al-'Asr:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

(QS. Al-'Asr: 1–3)

Pesan Surat Al-'Asr sangat relevan dalam kehidupan warga. Waktu yang kita miliki hendaknya tidak berlalu begitu saja. Kebersamaan yang telah terbangun harus dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan.

Saling mengingatkan dalam kebaikan, saling membantu ketika ada warga yang membutuhkan, dan bersabar menghadapi perbedaan merupakan modal penting untuk membangun lingkungan yang nyaman.

Gotong Royong adalah Kekuatan Warga

Semangat gotong royong merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Sebuah pekerjaan yang berat akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama.

Dalam kegiatan HUT RI ke-81, warga telah membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu, berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan meriah.

Semangat tersebut hendaknya diteruskan dalam kegiatan lingkungan lainnya, seperti kebersihan, keamanan, kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, kepedulian terhadap warga yang membutuhkan, hingga kegiatan untuk anak-anak dan generasi muda.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya persaudaraan dan saling membantu. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah gambaran ideal kehidupan warga.

Bukan saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan.

Bukan saling mencari kesalahan, tetapi saling memperbaiki.

Bukan berjalan sendiri-sendiri, tetapi berjalan bersama.

Pembubaran Panitia dan Doa

Setelah sambutan Ketua RW dan rangkaian kegiatan selesai, secara resmi dilakukan pembubaran panitia HUT RI ke-81 Cimahpar Endah 2 RW 11.

Pembubaran tersebut menjadi tanda berakhirnya tugas kepanitiaan, tetapi bukan berakhirnya semangat persaudaraan.

Panitia yang telah bekerja selama pelaksanaan kegiatan patut mendapatkan apresiasi. Waktu, tenaga, pikiran, dan kebersamaan yang diberikan merupakan bentuk pengabdian kepada lingkungan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan mendapatkan keberkahan serta hubungan kekeluargaan warga RW 11 semakin erat.

Lontong Kari dan Karaoke Bersama

Setelah rangkaian acara resmi selesai, suasana semakin cair dan penuh keakraban.

Warga kemudian menikmati hidangan lontong kari bersama-sama.

Makan bersama menjadi salah satu bagian yang sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang kuat. Duduk bersama, berbincang, bercanda, dan menikmati makanan dalam satu suasana kekeluargaan dapat menghilangkan sekat-sekat di antara warga.

Kegiatan kemudian semakin meriah dengan karaoke bersama.

Warga bernyanyi, bercanda, dan menikmati suasana santai setelah beberapa waktu sebelumnya sibuk melaksanakan berbagai kegiatan HUT RI.

Tidak ada lagi suasana pertandingan.

Tidak ada lagi lawan dan kawan

Yang ada hanyalah warga Cimahpar Endah 2 RW 11 sebagai satu keluarga besar.

Menjadi Lingkungan yang Membuat Warga Betah

Pada akhirnya, tujuan terbesar dari berbagai kegiatan kemasyarakatan bukan hanya mendapatkan juara atau membuat acara menjadi meriah.

Tujuan yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang membuat warganya merasa aman, nyaman, dihargai, diterima, dan betah tinggal di Cimahpar Endah 2 RW 11.

Semoga setelah HUT RI ke-81 ini, semangat persatuan semakin kuat.

Mari kita pertahankan:

KOMPAK dalam kegiatan.

RUKUN dalam bertetangga.

BERSAMA dalam menghadapi persoalan.

GOTONG ROYONG dalam bekerja.

SALING MENGHARGAI dalam perbedaan.

SALING MENOLONG dalam kebaikan.

Karena lingkungan yang hebat bukan hanya dibangun oleh fasilitas yang bagus, tetapi oleh warga yang memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap lingkungannya.

Selamat kepada RT 03 sebagai Juara Umum HUT RI ke-81 Cimahpar Endah 2 RW 11, dengan perolehan 3 emas dan 1 perunggu.

Terima kasih kepada seluruh panitia, pengurus RT/RW, serta seluruh warga yang telah berpartisipasi dan bergotong royong menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Panitia boleh dibubarkan, tetapi persaudaraan jangan pernah dibubarkan.

Lomba boleh berakhir, tetapi kekompakan harus terus berlanjut.

HUT RI ke-81 boleh selesai, tetapi semangat gotong royong harus tetap hidup di Cimahpar Endah 2 RW 11.

Semoga Cimahpar Endah 2 RW 11 semakin kompak, semakin rukun, semakin nyaman, dan semakin membuat seluruh warganya betah untuk tinggal bersama dalam suasana kekeluargaan.

Cimahpar Endah 2 RW 11 — Bersama, Kompak, Rukun, dan Gotong Royong. 🇮🇩

Read More

Search Our Site