Setiap hari seorang mukmin membaca minimal 9 kali syahadat dan 17 kali surat Al-Fatihah, yaitu dalam shalat. Sehingga Al-Fatihah menjadi doa yang berulang-ulang hadir dalam kehidupan kita.
Di dalam surat al Fatihah ada satu permohonan yang sangat menentukan keselamatan hidup kita:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)
Pertanyaannya: mengapa orang yang sudah beriman masih harus berkali-kali meminta petunjuk dan hidayah?
Karena hidayah bukan hanya persoalan mengetahui kebenaran, tetapi juga tentang menerima kebenaran, mencintainya, mengamalkannya, istiqamah di atasnya, dan meninggal dunia dalam keadaan berada di atas jalan kebenaran yang diridhai Allah Swt.
Orang beriman tidak hanya meminta hidayah sekali saja ketika ia masuk Islam, tetapi selalu meminta agar setiap saat ditunjukkan, ditolong, diteguhkan, dan ditambah dalam hidayah.
Para mufasir menjelaskan bahwa *ihdina* mengandung makna meminta agar Allah Swt menunjukkan, membimbing, memberikan taufik, dan meneguhkan kita di atas jalan yang lurus. Ibn Katsir menjelaskan bahwa jalan lurus itu adalah jalan Islam yang mengantarkan kepada keridhaan Allah dan surga-Nya.
Maka ketika kita membaca:
ٱهۡدِنَا
“Tunjukilah kami,”
seakan-akan kita berkata dan memohon:
“Ya Allah, jangan hanya tunjukkan kepadaku jalan-Mu. Bimbing aku untuk menjalaninya. Berikan aku kemampuan untuk mengamalkannya. Teguhkan aku di atasnya. Jangan biarkan aku menyimpang darinya.”
Dan inilah pentingnya doa tersebut.
Rasulullah Saw bahkan mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي
“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah aku.”
Kemudian beliau menjelaskan bahwa *huda* adalah seperti petunjuk menuju jalan, sedangkan *sadad* adalah ketepatan seperti tepatnya arah anak panah. (HR. Muslim no. 2725a).
Ada satu hal yang sangat menarik. Setelah kita, saat membaca al Fatihah, memuji Allah sebagai Rabbul 'alamin, Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Maliki yaumiddin, kita berkata:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Barulah kita meminta:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Ini berarti, hidayah sangat erat hubungannya dengan ibadah dan pertolongan Allah Swt.
Rasulullah Saw meriwayatkan bahwa ketika seorang hamba membaca ayat ini, Allah Swt berfirman bahwa permintaan itu adalah untuk hamba-Nya dan hamba tersebut memperoleh apa yang dimintanya. (HR. Muslim no. 395).
Dengan demikian janganlah kita hanya membaca Al-Fatihah dengan lisan saja.
Ketika mengucapkan اهْدِنَا, hadirkan dalam hati kita:
“Ya Allah, saya membutuhkan hidayah-Mu setiap saat.” Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hati kita esok hari, bahkan setelah kita membaca doa tersebut.
Terkait permohonan hidayah ini, kita perlu lihat Firman Allah Swt ini:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Saff: 5).
Karena itu, persoalan terbesar tentang hidayah ini bukan sekadar apakah mata kita melihat kebenaran, tetapi apakah hati kita mau tunduk kepada kebenaran tersebut.
Allah berfirman kepada Nabi Saw:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56).
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hidayah taufik adalah karunia dan hak prerogatif Allah Swt.
Maka kita jangan pernah merasa aman dengan iman kita.
Janganlah kita berkata, “Saya sudah lama mengaji.” Jangan berkata, “Saya sudah banyak beribadah.” Tetapi setiap hari selalu katakan:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan teguhkanlah kami di atasnya.” Sebab yang kita butuhkan bukan hanya hidayah untuk mengetahui yang benar, tetapi juga hidayah untuk mencintai yang benar, mengamalkan yang benar, istiqamah dalam kebenaran, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Ada tiga hal yang mesti kita perhatikan agar doa *ihdinash shirathal mustaqim* benar-benar hidup dalam diri kita.
*Pertama,* terus belajar tentang kebenaran.
Hidayah membutuhkan ilmu.
*Kedua,* tunduk dan ikuti ketika kebenaran telah jelas. Jangan biarkan kesombongan, kepentingan, kebiasaan, atau hawa nafsu mengalahkan kebenaran.
*Ketiga,* minta terus kepada Allah Swt agar diteguhkan hati dalam memahami dan menjalankan kebenaran tersebut. Sebab hati manusia dapat berubah, setiap saat.
Dengan alur: mengetahui → menerima → mengamalkan → istiqamah → wafat dalam hidayah. Para ulama juga menjelaskan ihdinā sebagai permohonan agar ditunjukkan sekaligus diteguhkan di jalan yang lurus.
Karena itu, setiap membaca Al-Fatihah, kita sebaiknya tidak sekadar hanya menyelesaikan bacaannya.
Tetapi resapi betul doa ini:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Semoga Allah Swt memberikan kepada kita hidayah ilmu, hidayah iman, hidayah amal, hidayah istiqamah, dan hidayah husnul khatimah.
Wa Allaahu 'alam
Semoga bermanfaat.
Bandung 16-09-26







0 comments:
Posting Komentar