Setiap kali saya menghadiri pemakaman dan ikut melaksanakan salat jenazah, ada satu hal yang sering terlintas dalam pikiran saya:
Bagaimana jika jenazah yang berada di hadapan saya itu adalah saya sendiri?
Pertanyaan sederhana itu ternyata mampu mengubah cara saya memandang kehidupan.
Ketika kita berdiri untuk menyalatkan seseorang yang telah meninggal, kita mungkin melihat sebuah tubuh yang sudah tidak bergerak. Tidak lagi berbicara, tidak lagi tersenyum, tidak lagi bisa bekerja, berdebat, bercanda, atau meminta sesuatu kepada kita.
Tetapi ada satu hal yang masih bisa kita lakukan untuknya: mendoakannya.
Dalam salat jenazah, kita memohon kepada Allah agar orang yang telah meninggal mendapatkan ampunan, rahmat, keselamatan, dan tempat yang baik di sisi-Nya.
Saat itu saya membayangkan:
Mungkin sekarang ia sedang menunggu doa-doa dari orang-orang yang masih hidup.
Doa kita mungkin hanya beberapa menit. Tetapi bagi seseorang yang telah meninggalkan dunia, doa itu adalah bentuk kasih sayang yang masih bisa kita berikan.
Kemudian muncul kesadaran yang lebih dalam:
Suatu hari nanti, saya juga akan berada di posisi itu.
Saya yang sekarang berdiri di belakang jenazah, suatu saat akan menjadi orang yang berada di depan orang-orang yang menyalatkan.
Saya yang sekarang mendoakan orang lain, suatu saat akan membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup.
---
Kita Sering Merasa Kematian Itu Jauh
Ketika seseorang meninggal, kita sering mengatakan:
"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah."
Kemudian kita pulang.
Kehidupan kembali berjalan.
Besok kita bekerja.
Kita makan.
Kita tertawa.
Kita berencana.
Kita mengejar sesuatu yang kita inginkan.
Seolah-olah kematian adalah sesuatu yang hanya terjadi kepada orang lain.
Padahal sebenarnya tidak demikian.
Setiap jenazah yang kita lihat sebenarnya sedang membawa pesan kepada kita:
«"Hari ini kamu yang mengantarkan aku. Suatu hari nanti, orang lain akan mengantarkan kamu."»
Karena itu, menghadiri salat jenazah seharusnya bukan hanya menjadi bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal.
Ia juga merupakan cermin bagi diri kita sendiri.
---
Tentang Waktu, Alam Dunia dan Alam Akhirat
Di sinilah pikiran saya kemudian berkelana kepada persoalan ruang dan waktu.
Dalam teori relativitas Einstein, ruang dan waktu merupakan bagian dari struktur alam semesta dan saling berkaitan dalam konsep ruang-waktu (spacetime). Namun, teori relativitas tidak menyatakan atau membuktikan bahwa alam akhirat tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Persoalan akhirat berada di wilayah yang berbeda: wilayah keimanan dan metafisika, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan hanya melalui persamaan fisika.
Tetapi sebagai sebuah renungan, kita dapat membayangkan bahwa alam akhirat bukanlah sesuatu yang harus dipahami dengan ukuran kehidupan dunia semata.
Al-Qur'an sendiri mengingatkan bahwa ukuran waktu di sisi Allah tidak sama dengan ukuran waktu yang kita alami sebagai manusia.
Allah berfirman:
«وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ»
«“Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. Al-Hajj: 47)»
Ayat ini tidak boleh disederhanakan sebagai rumus fisika tentang akhirat. Namun ayat tersebut memberi kita sebuah kesadaran bahwa ukuran waktu manusia tidak dapat begitu saja dijadikan ukuran untuk memahami seluruh realitas yang berada di luar pengalaman duniawi kita.
---
Bagaimana Jika "Saya yang Sekarang" Bertemu dengan "Saya yang Akan Datang"?
Ada sebuah renungan yang menarik.
Saya yang sekarang masih hidup adalah seseorang yang sedang berjalan menuju kematian.
Sementara "saya yang akan datang" adalah saya yang suatu hari nanti telah meninggalkan dunia.
Saya tidak tahu kapan pertemuan itu terjadi
Mungkin puluhan tahun lagi.
Mungkin beberapa tahun lagi.
Mungkin bahkan jauh lebih dekat daripada yang saya bayangkan.
Namun satu hal pasti:
Saya yang sekarang sedang menentukan keadaan saya yang akan datang.
Jika hari ini saya rajin berbuat baik, maka kebaikan itu menjadi bagian dari bekal saya
Jika hari ini saya menjaga salat, bersedekah, membantu orang lain, menjaga lisan, meminta maaf ketika salah, dan berusaha meninggalkan dosa, maka semua itu tidak hilang begitu saja.
Sebaliknya, jika hari ini saya menyakiti orang, mengambil hak orang lain, sombong, lalai dari Allah, dan terus menumpuk dosa, maka saya juga sedang mempersiapkan sesuatu untuk diri saya sendir
Dengan kata lain:
Saya yang sekarang sedang mengirim bekal kepada saya yang akan datang.
---
Tidak Perlu Menunggu Menjadi Jenazah untuk Mendoakan Diri Sendiri
Ada sesuatu yang sering kita lupa.
Ketika seseorang sudah meninggal, kita mendoakannya:
"Ya Allah, ampuni dia."
"Ya Allah, rahmati dia."
"Ya Allah, tempatkan dia di tempat yang baik."
Tetapi mengapa kita tidak mulai memohon semua itu sekarang, ketika kita masih hidup?
Kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat.
Masih bisa memperbaiki salat.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa meminta maaf.
Masih bisa memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Masih bisa menolong tetangga.
Masih bisa belajar agama.
Masih bisa meninggalkan kebiasaan buruk.
Masih bisa memperbanyak amal saleh.
Karena selama kita masih hidup, pintu amal masih terbuka.
---
Barangkali Inilah Makna "Mendoakan Diri Sendiri"
Ketika saya berkata:
"Saya harus berbuat baik agar saya yang akan datang bahagia,"
itu bukan berarti kita harus memikirkan diri sendiri secara egois.
Justru dalam Islam, amal saleh memiliki dampak yang luas.
Sedekah membantu orang lain.
Menolong tetangga mempererat persaudaraan.
Memaafkan orang lain membersihkan hati.
Mengajarkan ilmu memberikan manfaat yang dapat terus mengalir.
Membesarkan anak dengan akhlak yang baik dapat menjadi amal yang manfaatnya panjang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
«“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)»
Betapa indahnya.
Kita hidup hari ini, tetapi sebagian amal kita dapat terus memberikan manfaat bahkan setelah tubuh kita tidak lagi berada di dunia.
--
Saya yang Sekarang dan Saya yang Akan Datang
Maka setiap kali saya berdiri dalam salat jenazah, saya ingin mencoba melihat lebih jauh daripada sekadar sebuah jenazah.
Saya ingin melihat masa depan saya sendiri.
Jenazah itu seperti sebuah cermin.
Ia berkata tanpa suara:
«"Jangan terlalu lama mengejar dunia. Kamu akan sampai di tempatku."»
Ia mengingatkan:
«"Jangan terlalu sibuk menghitung apa yang kamu miliki. Hitunglah apa yang akan kamu bawa."»
Ia juga mengingatkan:
«"Jangan hanya berharap orang lain mendoakanmu nanti. Mulailah mempersiapkan dirimu sekarang."»
Karena pada akhirnya, manusia tidak membawa rumahnya.
Tidak membawa mobilnya.
Tidak membawa jabatan.
Tidak membawa rekeningnya.
Tidak membawa popularitasnya.
Yang dibawa hanyalah amal.
---
Mungkin, Inilah Cara Paling Sederhana Memahami Kehidupan
Saya yang sekarang adalah amanah.
Saya yang akan datang adalah sebuah kepastian yang sedang menunggu.
Di antara keduanya ada waktu yang disebut kehidupan.
Dan setiap detik kehidupan sebenarnya adalah kesempatan untuk mempersiapkan pertemuan dengan diri kita sendiri di alam yang berikutnya.
Karena itu, ketika nanti saya kembali berdiri di belakang jenazah, saya ingin mengingat satu kalimat:
"Hari ini saya mendoakan dia. Besok mungkin orang lain yang mendoakan saya."
Maka sebelum hari itu tiba, saya ingin lebih banyak berbuat baik.
Lebih banyak meminta ampun kepada Allah.
Lebih banyak memaafkan.
Lebih banyak bersedekah.
Lebih banyak membantu.
Lebih banyak menjaga lisan.
Lebih banyak beribadah.
Dan lebih banyak mengingat bahwa kehidupan dunia ini bukan tempat untuk tinggal selamanya.
Kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama.
Kematian bukan akhir dari perjalanan, tetapi pintu menuju kehidupan yang berikutnya.
Dan mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:
"Kapan saya akan mati?"
Melainkan:
"Ketika saat itu tiba, saya ingin bertemu dengan diri saya yang mana?"
Saya yang penuh penyesalan?
Ataukah saya yang telah berusaha mempersiapkan diri untuk menghadap Allah?
Pilihan itu sedang kita buat hari ini.
Sedikit demi sedikit.
Amal demi amal.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya, tanpa kita sadari, perjalanan itu sampai pada waktunya.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.”
Semoga ketika tiba waktunya nanti, Allah menerima kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.






0 comments:
Posting Komentar