Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
Selamat datang di Web Cimahpar Endah 2 RW 11, Pasirhalang, Sukaraja, Sukabumi

Rabu, 23 September 2026

September 23, 2026 | Posted in , , , by cme2 | No comments

 




Pengajian Rutin Masjid Al Hidayah RW 11: Menundukkan Kesombongan, Membersihkan Hati, dan Memilih Jalan Kebaikan

Cimahpar Endah 2, RW 11 — Ada kalanya manusia merasa sudah cukup baik karena memiliki ilmu, harta, jabatan, pengalaman, atau berbagai keberhasilan dalam hidup. Padahal, semakin banyak yang Allah SWT titipkan kepada kita, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan kerendahan hati.

Pesan itulah yang menjadi salah satu renungan penting dalam pengajian rutin di Masjid Al Hidayah, Cimahpar Endah 2, RW 11.

Pengajian kali ini mengajak jamaah untuk tidak hanya memperbanyak pengetahuan agama, tetapi juga melakukan muhasabah, melihat kembali keadaan hati, lisan, pergaulan, harta dan amal yang selama ini kita jalani.

Sebab, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri.


Jangan Sombong, Karena Semua yang Kita Miliki Hanya Titipan

Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah sombong dan takabur.

Manusia terkadang lupa bahwa apa yang dimilikinya hari ini—harta, jabatan, kepandaian, kesehatan, keluarga, bahkan kesempatan untuk hidup—semuanya adalah pemberian Allah SWT.

Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis qudsi:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

"Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa menandingi-Ku dalam salah satunya, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka."
(HR. Muslim)

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)

Maka, semakin tinggi seseorang kedudukannya, seharusnya semakin rendah hatinya.

Karena yang kita miliki bukan benar-benar milik kita. Semuanya hanya amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.


Jangan Menjadi Orang yang Berhenti Belajar

Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti mencari ilmu.

Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, jabatan boleh berakhir, tetapi semangat menuntut ilmu seharusnya tidak pernah berhenti.

Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar: 9)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ilmu bukan untuk membuat seseorang merasa paling pintar.

Ilmu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa ternyata masih banyak yang belum kita ketahui.

Dan ilmu yang paling indah adalah ilmu yang kemudian berubah menjadi amal dan akhlak.


Pilih Teman yang Membawa Kita Mendekat kepada Allah

Pergaulan bukan perkara kecil.

Teman yang kita pilih dapat memengaruhi cara berpikir, cara berbicara, bahkan arah kehidupan kita.

Allah SWT berfirman:

وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."
(QS. At-Taubah: 119)

Rasulullah SAW bersabda:

"Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Karena itu, gaul harus tetap gaul, tetapi jangan kehilangan kendali.

Bergaullah dengan orang berilmu, orang saleh, orang yang rendah hati, orang yang suka mengingatkan kepada kebaikan dan orang yang membuat kita malu untuk berbuat buruk.

Jangan sampai sebuah pergaulan justru membuat kita kehilangan rasa malu, meninggalkan ibadah, terbiasa bergunjing, suka mencela, atau menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.

Allah SWT mengingatkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Ma'idah: 2)


Jangan Malu Duduk Bersama Orang Miskin

Ada orang yang senang ketika berada di tengah orang-orang kaya, tetapi merasa kurang nyaman ketika harus duduk bersama orang miskin.

Islam mengajarkan sebaliknya: jangan pernah merendahkan manusia karena keadaan ekonominya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)

Kekayaan bukan ukuran kemuliaan.

Jabatan bukan ukuran kemuliaan.

Pendidikan bukan ukuran kemuliaan.

Kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah ketakwaannya.

Bergaul dengan orang yang sederhana dan miskin dapat mengajarkan kita untuk bersyukur, peduli, berbagi dan menyadari bahwa kehidupan dunia tidak selamanya berada di atas.


Empat Resep Menjaga Kebahagiaan Hati

Dalam pengajian juga disampaikan empat nasihat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

1. Ingat Dosa agar Segera Bertobat

Jangan merasa terlalu suci.

Tetapi jangan pula merasa terlalu kotor sehingga putus asa dari rahmat Allah.

Ingatlah dosa agar kita segera memperbaikinya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
(QS. Az-Zumar: 53)

Kesalahan masa lalu bukan alasan untuk berhenti menjadi baik.

Yang penting bukan siapa yang tidak pernah berdosa, tetapi siapa yang mau kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan.


2. Jangan Sibuk Menghitung Kebaikan Diri Sendiri

Kadang-kadang kita lebih mudah mengingat kebaikan yang sudah kita lakukan daripada kesalahan yang masih kita kerjakan.

"Sudah banyak saya membantu."

"Sudah banyak saya bersedekah."

"Sudah banyak saya berbuat baik."

Hati-hati. Amal yang dibanggakan dapat menjadi pintu kesombongan.

Allah SWT berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."
(QS. An-Najm: 32)

Berbuat baiklah, kemudian lupakan kebaikan itu.

Biarkan Allah yang mencatatnya.


3. Dalam Urusan Akhirat, Lihat Orang yang Lebih Rajin Beribadah

Jika kita ingin meningkatkan ibadah, lihatlah orang-orang yang lebih rajin daripada kita.

Lihat mereka yang lebih istiqamah salatnya.

Lebih rajin membaca Al-Qur'annya.

Lebih banyak sedekahnya.

Lebih sabar menghadapi kehidupan.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)

Jadikan kebaikan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk iri.


4. Dekat dengan Orang Sederhana agar Hati Tidak Terlena Dunia

Ketika kita melihat orang yang kehidupannya lebih sulit, seharusnya tumbuh rasa syukur dan kepedulian.

Allah SWT berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."
(QS. Al-Insan: 8)

Kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki.

Kebahagiaan juga tentang mampu berbagi.


Rezeki yang Dicari Harus Halal dan Baik

Manusia diperintahkan untuk bekerja dan berusaha.

Tetapi bukan sekadar mendapatkan banyak uang.

Yang harus dicari adalah kasab hasanah, usaha yang baik, halal dan membawa keberkahan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

"Wahai manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik."
(QS. Al-Baqarah: 168)

Maka rezeki hendaknya dicari melalui jalan yang halal.

Bukan melalui penipuan.

Bukan melalui kecurangan.

Bukan melalui mengambil hak orang lain.

Bukan melalui usaha yang diharamkan.

Sedikit tetapi halal dan berkah jauh lebih menenangkan hati daripada banyak tetapi membawa masalah dan dosa.


Bersihkan Hati dari Su'uzan

Salah satu sumber kegelisahan manusia adalah terlalu banyak berprasangka buruk kepada orang lain.

Belum tahu kenyataannya, tetapi sudah membuat kesimpulan.

Belum mendengar penjelasannya, tetapi sudah menuduh.

Allah SWT berfirman:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

"Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Karena itu, biasakan husnuzan atau berprasangka baik.

Tidak semua yang kita dengar benar.

Tidak semua yang kita lihat menggambarkan keadaan sebenarnya.

Tidak semua orang yang berbeda dengan kita berarti buruk.

Rasulullah SAW bersabda:

"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih akan membuat kehidupan jauh lebih tenang.


Ilmu, Harta dan Lisan: Tiga Amanah yang Harus Dijaga

Ada tiga hal penting yang menjadi renungan dalam pengajian ini.

Beruntunglah orang yang memiliki ilmu kemudian mengamalkannya.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu."
(QS. Thaha: 114)

Beruntunglah orang yang memiliki harta kemudian menggunakannya untuk bersedekah.

Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai..."
(QS. Al-Baqarah: 261)

Dan beruntunglah orang yang mampu menjaga lisannya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebab satu kalimat dapat membuat orang bahagia, tetapi satu kalimat pula dapat menghancurkan persaudaraan.


Penutup: Mari Pulang dari Pengajian dengan Hati yang Berbeda

Pengajian bukan hanya tentang mendengar ceramah.

Pengajian adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah saya menjadi manusia yang lebih baik?

Sudahkah ilmu membuat saya rendah hati?

Sudahkah harta membuat saya gemar berbagi?

Sudahkah pergaulan membuat saya semakin dekat kepada Allah?

Sudahkah hati saya terbebas dari iri dan buruk sangka?

Sudahkah lisan saya aman dari menyakiti orang lain?

Sudahkah usaha saya benar-benar halal?

Dan yang paling penting:

Apakah setelah mengikuti pengajian, ada sesuatu dalam diri saya yang berubah menjadi lebih baik?

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Semoga pengajian rutin di Masjid Al Hidayah Cimahpar Endah 2 RW 11 senantiasa menjadi ruang untuk belajar, bermuhasabah, mempererat silaturahmi dan memperbaiki akhlak.

Semoga dari masjid ini lahir masyarakat yang berilmu tetapi rendah hati, berkecukupan tetapi gemar berbagi, kuat tetapi tidak sombong, bergaul luas tetapi tetap menjaga diri, serta memiliki hati yang bersih dan lisan yang membawa kedamaian.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

"Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk."

Masjid Al Hidayah Cimahpar Endah 2 RW 11
Tempat menuntut ilmu, memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan bersama-sama menuju ridha Allah SWT.

Selesai pengajian lanjut shalat Isya. Setelah shalat isya semua jemaah melangkah ke kediaman almarhum Ibu Didi / Bu Lilim untuk tahlilan hari ke 2.



0 comments:

Posting Komentar

Search Our Site